Faktor anggaran masih menjadi kendala dalam upaya digitalisasi perpustakaan. Hal ini mengemuka dalam Rakornas Perpustakaan 2022 pada Rabu (30/3) petang ini.
Muhadjir mengatakan arus informasi di era digital sudah sangat mudah dijangkau, bahkan dunia mengalami kelimpahruahan sumber-sumber belajar, dan begitu mudahnya untuk mengakses sumber belajar itu.
Tercatat, Rakornas Perpusnas tahun ini akan diikuti 10.000 peserta, dan diisi dengan beragam diskusi menarik yang mengupas persoalan dan tantangan literasi Indonesia. 750 peserta akan hadir secara luring dan 9.250 peserta secara daring.
Pustakawan dapat bekerja sama dengan guru untuk mengumpulkan dan membuat materi digital terbaru, kemudian menyebarluaskan materi digital tersebut melalui kanal-kanal yang dapat diakses oleh para siswa.
Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengalokasikan anggaran melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), untuk membangun gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali, Remen Maos.
Kerjasama antara perpustakaan MPR dengan pihak lain, khususnya perguruan tinggi sudah berjalan sejak 2017.
Membuka memori kolektif kebangsaan, menghimpun kembali catatan sejarah perjuangan bangsa yang terserak di ruang-ruang perpustakaan sekolah dan kampus, yang kian hari kian terpinggirkan oleh modernitas zaman, dan terlupakan oleh dinamika peradaban.
Perpustakaan menjadi lembaga yang strategis untuk meningkatkan literasi masyarakat guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses informasi sesuai dengan konteks kebutuhan masing-masing.
Dalam pekan itu selama beberapa hari selain dipamerkan foto-foto kegiatan pimpinan dan anggota MPR, juga dipamerkan unit Perpustakaan MPR dan PPID.
Kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia dikatakan telah dijalin oleh Perpustakaan MPR sejak tahun 2017.