Setiap 19 Agustus, Indonesia memperingati Hari Departemen Luar Negeri sebagai bentuk penghormatan terhadap lahirnya lembaga yang menjadi ujung tombak diplomasi bangsa. Peringatan ini tidak hanya memuat unsur historis, tetapi juga menegaskan pentingnya peran Indonesia di panggung dunia.
Mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk menggunakan pengaruh diplomasi Indonesia agar dunia internasional segera menghentikan agresi dan penderitaan rakyat Palestina.
Diskusi Akademik di El Colegio de Mexico, IBAS: Hubungan Intelektual dan Diplomasi Akademik untuk Peradaban
Saya menitipkan perhatian khusus pada diplomasi perdagangan, terutama untuk komoditas hasil pertanian dan perkebunan rakyat. Dulu kita dijajah karena rempah-rempah. Hari ini, kekayaan itu harus jadi alat negosiasi global.
Keberhasilan ini adalah prestasi diplomasi ekonomi. Ini akan membuka ruang ekspor kita, apalagi banyak pelaku usaha di Bali yang menjalin hubungan dagang dengan pasar Amerika. Ke depan, ekspor harus terus ditingkatkan, tata kelola diperbaiki, dan insentif untuk pelaku ekspor ditingkatkan.
China Turun Tangan saat AS Menarik Diri dari Diplomasi Internasional
Dalam konteks geopolitik dan perdagangan internasional, penurunan tarif ini bukan hanya kemenangan diplomasi, tapi juga kemenangan ekonomi bagi Indonesia.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin mengapresiasi capaian diplomatic Presiden Prabowo Subianto dalam menyepakati perjanjian dagang bebas IEU-CEPA.
Trump Berlakukan Tarif 32 Persen, Eddy Soeparno Bela Strategi Diplomasi Presiden Prabowo
Lembaga internasional, seperti WTO, PBB, dan IMF mulai kehilangan pengaruh karena konflik antar-blok