Tanggal 5 Mei bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia, menandai tonggak historis kelahiran Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), organisasi keagamaan berhaluan Syafi’i-Asy’ari yang lahir dari kegelisahan ulama tradisionalis terhadap arus perubahan zaman.
Pertanyaan seputar boleh tidaknya menikah di bulan Zulkaidah sering diajukan oleh pasangan Muslim yang sedang menentukan tanggal pernikahan. Pasalnya, bulan ini memang belum sepopuler bulan Syawal yang sering dipilih masyarakat Islam untuk melangsungkan akad nikah.
Pelajar Islam Indonesia adalah organisasi pelajar tertua di Indonesia yang lahir sejak tahun 1947.
Lebih dari sekadar larangan perang, Zulkaidah adalah bulan yang menyimpan jejak sejarah besar Islam, berikut ini adalah tujuh peristiwa penting yang menggambarkan betapa istimewanya bulan ini, yang dikutip dari berbagai sumber.
Apitan diselenggarakan setiap bulan Zulkaidah, dalam kalender Islam atau Hijriah, yang dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai bulan Apit atau Hapit. Nama ini merujuk pada posisi bulan yang berada “terjepit” di antara dua hari raya besar, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalam kalender Jawa, Zulkaidah disebut sebagai Dulkangidah, namun masyarakat lebih akrab menyebutnya dengan nama bulan Apit atau Hapit. Mengapa demikian? Jawabannya terletak pada perpaduan antara kalender Islam dan budaya lokal yang kaya akan simbol dan makna
Dzulqa’dah atau dalam bahasa Indonesia disebut Zulkaidah merupakan bulan ke-11 dalam kalender Hijriyah, terletak di antara bulan Syawal dan Dzulhijjah. Bulan ini juga terletak antara dua hari raya umat Islam, Idulfitri dan Iduladha.
Bulan Dzulqa`dah merupakan salah satu bulan mulia dan sakral dalam Islam yang memiliki beberapa keutamaan di dalamnya. Terdapat beberapa amalan yang dianjurkan bagi umat Islam di bulan kesebelas dalam kalender Hijriah ini.
Selain TNI, umat Islam merupakan kekuatan nasional yang menjadi modal penting bagi bangsa Indonesia untuk merawat kesatuan dan persatuan.
Musibah kebakaran bisa datang tanpa diduga, membawa dampak besar bagi keselamatan, harta benda, dan ketenangan jiwa, dan tak jarang merenggut nyawa. Dalam kondisi genting seperti ini, Islam tidak hanya mengajarkan langkah-langkah lahiriah, tetapi juga perlindungan batiniah