Rencana tersebut merupakan yang terbaru Iran kepada IAEA bahwa pihaknya berencana melanggar kesepakatan pakta nuklir 2015 sebagai pembalasan atas penarikan Amerika Serikat (AS) dari perjanjian dan penerapan kembali sanksi terhadap Teheran.
Dalam laporan triwulanan IAEA terbaru, IAEA melaporkan Iran pada 25 Agustus telah menimbun 2.105,4 kilogram uranium yang diperkaya rendah, jauh di atas 202,8 kilogram yang diizinkan berdasarkan JCPOA.
Kerja sama Iran dengan IAEA selalu didasarkan pada komitmen internasional dan dalam kerangka kerja teknis dan profesional.
Teheran sepenuhnya menolak resolusi yang diadopsi oleh Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA)
Republik Islam Iran menolak setiap tuduhan tidak bekerjasama dengan IAEA, bersikeras bahwa ia siap untuk menyelesaikan perbedaan yang berpotensi besar dengan IAEA.
AS menuding Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir meskipun sudah dikonfirmasi berulang-ulang dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bahwa Iran tidak terlibat dalam kegiatan membuat bom atom.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sudah memverifikasi dalam 15 laporan bahwa Iran memenuhi semua kewajiban nuklirnya dengan niat baik.
AS menyebut kesepakatan nuklir 2015 sebagai kesepakatan terburuk meski, ada catatan verifikasi dan transparansi dari IAEA.
Iran sepenuhnya mematuhi Perjanjian Non-Proliferasi, mengikuti perjanjian perlindungan komprehensif dengan IAEA
Bolton menuduh Iran menyembunyikan bahan dan / atau kegiatan nuklir di tengah kunjungan penjabat kepala lembaga IAEA, Cornel Feruta.