Serangan udara dilakukan setelah pasukan darat menghadapi kesulitan menembus basis Abu Sayyaf di kawasan hutan lebat.
Tiga hari berselang, serangan granat terjadi di masjid Kota Zamboanga yang menewaskan 2 orang dan 4 lainnya luka-luka. Banyak dari korban adalah para ulama yang tengah terlelap.
Dikutip dari AFP, ledakan terjadi ketika para korban sedang tidur sebelum fajar. Mindanao sendiri merupakan rumah bagi minoritas Muslim Filipina.
Lorenzana menyebut komandan Abu Sayyaf Hatib Sawadjaan sebagai dalang di balik pemboman gereja.
Dua bom meledak di sebuah katedral Katolik Roma di sebuah pulau di Filipina selatan tempat gerilyawan Muslim aktif, menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai 111 lainnya selama Misa Minggu.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte bersumpah akan menghancurkan pelaku bom kembar di gereja Jolo, yang mengakibatkan 27 orang meninggal dunia, dan 77 lainnya luka-luka.
Media lokal menyebutkan bahwa dari 17 orang yang dilaporkan tewas, lima di antaranya merupakan personil militer dan 12 lainnya warga sipil.
Korban dilaporkan berasal dari warga sipil dan pasukan keamanan.
Duterte tidak menyebutkan alasan secara spesifik ihwal kritiknya terhadap gereja pada Kamis (10/1) waktu setempat, yang juga menuding sebagian besar uskup adalah homoseksual.
Para korban termasuk anak-anak kecil, sebagian besar tewas ketika rumah mereka ambruk akibat tanah longsor