Sejak Desember 2018, pertempuran antara militer dan Tentara Arakan meningkat di Rakhine. Lebih dari 50.000 mengungsi karena konflik itu, menurut kelompok masyarakat sipil.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Kompleksitas isu di Rakhine State, Myanmar tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menemukan solusi penyelesaian krisis kemanusiaan ini
Laporan itu menyampaikan bahwa 600.000 Rohingya yang tersisa di Rakhine hidup dalam kondisi menyedihkan.
Myanmar tak segan-segan melakukan penyiksaan dan pelecehan untuk memaksa Rohingya menerima kartu verifikasi tersebut.
Sekitar 200.000 Rohingya berunjuk rasa di kamp pengungsian Bangladesh, untuk menandai dua tahun sejak mereka melarikan diri dari penumpasan berdarah pasukan Myanmar.
Selama periode tersebut, militer Myanmar melakukan pelanggaran HAM sistematis terhadap warga sipil di negara bagian Kachin, Shan, dan Rakhine, termasuk memaksa lebih dari 700 ribu etnis Rohingya ke Bangladesh.
Menurut AFF, klaim bahwa Paulo sudah terlalu tua ditolak. Dalam pernyataan yang dirilis lewat akun Facebook, protes Myanmar dan Singapura dinilai tidak berdasar.
Sanksi terhadap kepala militer Min Aung Hlaing dan tiga lainnya karena berperan dalam pembersihan etnis di Rohingya tidak cukup keras.
Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap Panglima Militer Myanmar Min Aung Hlain dan para pemimpin militer lainnya