Pada Jumat (2/12), presiden asal Partai Republik itu, dikabarkan telah menelepon Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dan mengundangnya ke Gedung Putih.
Potensi risiko itu hadir setelah pemilihan Presiden AS berlangsung, karena dunia masih menebak-nebak arah kebijakan Presiden terpilih Donald Trump.
Di Miami, berita kematian Fidel Castro dirayakan oleh orang-orang Kuba Amerika, yang kebanyakan dari mereka merupakan pelarian politik dan mencari suaka ke negeri Paman Sam tersebut.
Dalai Lama, penerima Nobel perdamaian 1989, saat berkunjung ke Ulanbator, Mongolia pada Rabu (23/11) kemarin, mengatakan bahwa dirinya selalu menganggap AS adalah pemimpin "dunia bebas".
John, seorang aktivis hak gay, tampil di acara penggalangan dana untuk Hillary Clinton selama kampanye pemilihan presiden AS.
Pekan sebelumnya, Trump mengagetkan dunia dengan masuknya Stephen Bannon yang menjabat tugas strategis di Gedung Putih. Bannon, sebelumnya adalah kepala Breitbart News.
Kunjungan Dalai Lama ke Mongolia pada 2006, berujung pada pembatalan sementara sejumlah penerbangan dari Beijing dan Ulan Bator dan sebaliknya.
Terpilihnya Donald Trump dari Partai Republik, dalam pemilihan presiden AS Oktober lalu, semakin memberikan gairah mendalam pada kelompok yang menyebut diri sebagai "Alt Right Movement" itu.
Trump mengatakan, akan membatalkan pembatasan pekerjaan pada produksi energi Amerika dan menciptakan jutaan pekerjaan dengan gaji tinggi.
Selain menghindari media, ia juga mengenakan kalung kertas bertuliskan "Aku tidak tahu siapa pemenangnya dan tidak ingin tahu. TOLONG JANGAN BERITAHU SAYA."