Padahal pada saat yang sama, Navalny baru saja keluar dari penjara, setelah bulan lalu pengadilan memvonisnya 30 hari penjara dengan tuduhan serupa.
Langkah itu dilakukan dua hari setelah Washington menghukum departemen militer China karena membeli jet tempur dan rudal dari Rusia, pelanggaran sanksi sebelumnya.
Wakil Menteri Luar Negeri China, Zheng Zeguang memanggil Duta Besar AS, Terry Branstad. Ia menyampaikan pernyataan serius terkait sanksi itu.
Selain itu, Moskow juga mengatakan, Washington "bermain dengan api". Ia menuduh Gedung Putih mencoba menekan Rusia keluar dari pasar senjata global.
Pemerintah China dan Rusia bereaksi keras terhadap babak lain sanksi pemerintah Amerika Serikat. Bahkan kedua negara tersebut memperingatkan Trump untuk tidak bermain api.
Deplu mengatakan Departemen Pengembangan Peralatan Militer China terlibat dalam proses transfer pesawat tempur Su-35 Rusia dan peralatan sistem rudal S-400
Gedung Putih juga memasukkan 33 orang dan entitas yang terkait dengan militer dan intelijen Rusia, ke dalam catatan yang diatur undang-undang 2017, yang dikenal Melawan Adversaris Amerika Melalui Sanksi, atau CAATSA.
Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoygu mengklaim Israel bertanggung jawab, yang kemudian dibantah Israel. Militer Israel menyalahkan Hizbullah dan Iran atas insiden itu.
nasib personil militer belum diketahui, namun pihak kementerian mengatakan bahwa pencarian pesawat sedang berlangsung.
Pada Mei, sebuah tim penyelidik internasional menyatakan Rusia ada di balik jatuhnya MH17, yang ditembak jatuh saat terbang di atas wilayah timur Ukraina, menewaskan 283 penumpang dan 15 kru yang berada di dalamnya.