Bambang menjelaskan, petani tambak pada saat itu sedang mengalami kesulitan berat lantaran devaluasi Rupiah yang membuat hutangnya membengkak.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi santri dan guru setiap hari Al-Zaytun memasak satu ton beras. Semua dihasilkan di sawah, kebun, dan tambak yang dikelola sendiri.
Selain di jalan Dewi Sartika, tawuran juga kerap terjadi di jalan Tambak, Manggarai, serta di sekitar Pasar Rumput. Namun kali ini tergolong parah.