Dua minggu lalu, harga minyak melonjak. Itu setelah AS mengatakan akan menaikkan ekspor minyak Iran hingga ke "nol" setelah Gedung Putih kembali memberpakukan sanksi pada awal November.
Walaupun ekspor perdana yang dilakukan baru 15 ton, kedepannya dapat meningkatkan permintaan dan tersebar ke beberapa negara lainnya seperti Ukraina, Dubai, Amerika, Eropa, dan negara lainnya.
Jauh sebelumnya Negeri Paman Sam itu sudah mencoba menekan negara-negara Asia dan Afrika untuk mengurangi hingga nol impor minyak mentah dari Iran.
Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah pasti berdampak pada mahalnya barang-barang impor.
Pejabat AS merilis daftar ribuan impor China yang akan dikenakan tarif, termasuk ratusan produk makanan serta tembakau, bahan kimia, batu bara, baja dan aluminium.
Pertumbuhan produksi ternak, pakan dan obat-obatan menjadi kunci yang sangat penting untuk peningkatan produksi.
Beberapa hari terakhir, Presiden Iran, Hassan Rouhani dan beberapa komandan militer senior Iran mengancam akan mengganggu pengiriman minyak dari negara-negara Teluk jika Washington mencoba untuk memotong ekspor Teheran.
Iran dapat mengganggu ekspor regional jika minyaknya berhenti diimpor setelah Presiden AS Donald Trump pada Mei keluar dari kesepakatan nuklir yang ditandatangani dengan kekuatan dunia dan Uni Eropa.
Negeri Para Mullah itu akan menggunakan berbagai metode untuk mencegah kemungkinan penurunan ekspor minyaknya
Beberapa hari sebelumnya, Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi pada mitra bisnis Iran jika tidak memotong impor minyak Iran ke "nol" pada 4 November.