Dengan dalih keadaan darurat nasional karena ketegangan dengan Iran, kongres yang menok keras penjualan sentara tersebut pun tidak bisa berbuat banyak pada Jumat (24/5) waktu setempat.
AS mulai memperkuat kehadirannya di wilayah Teluk Persia bulan ini dalam menanggapi dugaan ancaman dari Iran. Teheran mengecam langkah AS itu sebagai perang psikologis.
Namun baru-baru ini, pemerintah AS telah menghentikan retorikanya, dengan Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengatakan kepada pembantunya untuk menghindari bentrokan militer dengan Iran.
Takht-Ravanchi menegaskan bahwa justru Teheran menjadi korban terbesar dan musuh terkuat terorisme di kawasan itu.
Pemerintahan Trump juga memperingatkan adanya indiksi yang menunjukkan Iran sedang berencana menyerang pasukan AS dan sekutunya.
Clinton mengkritik keputusan secara sepihak Trum menarik diri dari perjanjian nuklir.
Iran menegaskan tidak akan pernah meninggalkan tujuannya meskipun dihantam bom
Ketegangan memanas antara kedua negara setelah Washington mengerahkan pasukan militer ke Timur Tengah.
Murphy mengatakan Trump bisa saja menjadikan dalil ketegangan dengan Iran untuk membenarkan memasok lebih banyak senjata ke Arab Saudi.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan ketidaksetujuannya dengan implementasi perjanjian nuklir 2015.