Berita terkait video itu pertama kali dilaporkan oleh New York Times, setelah seseorang yang menghadiri pertemuan itu membocorkan sebuah video ponselnya ke surat kabar.
Video tersebut dengan jelas menggambarkan rupa Presiden Trump sedang menembak dan menikam lawan-lawan politk serta para awak media di sebuah gereja
Trump mengatakan pada Sabtu (Minggu waktu setempat), bahwa ia sudah menbulatkan tekad untuk memindahkan pasukan AS
Trump akan menandatangani otoritas yang mengizinkan sanksi pada Turki dan para pemimpinnya terkait Operasi Mata Air Perdamaian yang tengah berlangsung di Ankara.
Trump memuji China yang berjanji akan meningkatkan pembelian produk-produk pertanian AS, ke angka menakjubkan USD40-50 miliar. Itu akan menjadi prestasi yang menakjubkan, lebih dari dua kali lipat dari level sebelumnya kurang dari USD20 miliar pada 2017.
Trump sebenarnya tidak ingin menggunakan tarif untuk membuat China mengubah praktif perdagangannya, tetapi AS terpaksa harus memberlakukannya karena Beijing tetap ngeyel.
Serangan itu terjadi setelah Trump pada Minggu (6/10) memerintahkan pasukan AS untuk meninggalkan daerah itu dalam perubahan kebijakan mendadak yang dikritik tajam di Washington, DC.
Trump mengatakan tidak mendukung perang Turki melawan Kurdi di Suriah utara.
Turki mitra dagang besar AS dan anggota penting NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara).
Trump terobsesi menggunakan poligraf (alat pendeteksi keomongan) untuk mencari tahu siapa yang membocorkan informasi kepada pers.