Serangan itu merupakan tanggapan terhadap perang yang dipimpin Arab Saudi di negara mereka. Namun, Riyadh dan Washington justru menduing Iran di balik serangan itu.
Pihak kapal menolak laporan media dan mengklaim bahwa kapal itu menyebabkan pencemaran lingkungan ketika sedang dalam perjalanan kembali ke Iran.
Rouhani mengatakan, sangat memalukan bagi AS setelah menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral 2015 yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.
Iran terbuka untuk pembicaraan regional dan membantu perjalanan para tamu Emirat ke Teheran selama beberapa bulan terakhir untuk menyelesaikan masalah bilateral.
Pada April 2015, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengajukan rencana perdamaian empat poin untuk Yaman ke PBB dalam upaya untuk mengakhiri pertumpahan darah di negara Arab.
Putin meminta negara-negara Arab dan lainnya di Timur Tengah dan Teluk Persia untuk mulai mengakui hak-hak Iran sebagai kekuatan regional tradisional.
Pengumuman kunjungan Khan itu terjadi setelah The New York Times mengutip para pejabat Irak dan Pakistan yang mengatakan, putra mahkota Saudi meminta para pemimpin kedua negara dalam beberapa pekan terakhir untuk berbicara dengan rekan dari Iran mereka tentang de-eskalasi.
Televisi pemerintah Iran mengidentifikasi kapal sebagai tanker minyak Sinopa, tetapi NIOC kemudian mengklarifikasi nama kapal yang diserang adalah Sabiti.
Ledakan tersebut dilaporkan mengenai tubuh kapal yang mengakibatkan kerusakan parah pada dua tangki utama kapal.
Kapal tanker milik Perusahaan Minyak Nasional Iran tersebut, mengalami kerusakan parah dan menumpahkan minyak ke Laut Merah sekitar 60 mil dari Jeddah.