Presiden China, Xi Jinping menuai kritik global karena menahan minoritas Uighur di kamp-kamp interniran dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.
Kelompok hak asasi manusia mengatakan setidaknya satu juta orang Uighur dan Muslim berbahasa Turki lainnya telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang.
Beberapa mantan tahanan dan seorang penjaga mengatakan kepada BBC bahwa mereka mengalami atau melihat bukti dari sistem pemerkosaan massal, pelecehan seksual dan penyiksaan yang terorganisir.
China diminta mengakhiri semua penyiksaan dan pelecehan dalam tahanan dan mengizinkan warga Uighur dan minoritas lainnya untuk beremigrasi.
Kashgar, dekat perbatasan negara dengan Pakistan, Afghanistan, Tajikistan dan Kyrgyzstan adalah jantung budaya etnis Uighur dan Muslim Turki lainnya, banyak dari mereka mengeluhkan penindasan politik dan agama yang telah berlangsung lama, yang dibantah pemerintah China.
China berada di bawah pengawasan atas perlakuannya terhadap Muslim Uighur dan klaim dugaan pelanggaran kerja paksa di Xinjiang.
Dugaan persekusi dan diskriminasi terhadap muslim Uighur, tambahnya, telah melanggar hak asasi manusia (HAM) yang bersifat universal dan diakui di seluruh dunia
Pertemuan kembali dilakukan pada 23 Desember 2019, yakni Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu bertemu dengan Dubes RRT untuk Indonesia