Seiring dengan berkembangnya usaha budidaya florikultura, permintaan benih florikultura yang bermutu dari varietas unggul juga semakin meningkat.
Negara tujuan ekspor di antaranya Eropa, Amerika, Kanada, Singapura, Hongkong, Malaysia, dan Thailand. Dalam melaksanakan ekspor, perusahaan ini mendapatkan pendampingan dari Badan Karantina Pertanian dalam melakukan prosedur Sanitary Phyto Sanitary (SPS).
Menurutnya, besarnya angka ekspor menunjukkan bahwa bisnis benih florikultura masih sangat terbuka dan potensial untuk dikembangkan.
Melalui pola ini ternyata pemasaran pisang memiliki potensi ekspor yang cukup besar. Bahkan kebutuhannya belum dapat dipenuhi karena banyaknya permintaan.
Di saat produk florikultura mengalami penurunan omzet cukup tajam hingga 90%, justru ekspor Draceana tetap berlangsung selama pandemi.
kondisi ini mengharuskan pelaku usaha florikultura untuk lebih kreatif dalam melakukan inovasi.
Setiap tahun benih kultur jaringan yang diekspor yakni sebanyak 2-2,8 juta planlet per tahun, dengan angka ekspor sebesa USD1,5 juta atau setara Rp21 miliar per tahun.
Dari catatan BPS, pada tahun 2018, volume ekspor komoditas florikultura tercatat sebesar 4.600 Ton senilai Rp150 milyar rupiah.
Petani florikultura masih belum bisa memenuhi semua permintaan pasar mancanegara.