Perusahaan bioteknologi Synairgen mengembangkan perawatan, yang menggunakan protein (interferon beta) yang diproduksi tubuh secara alami ketika melawan infeksi virus.
Peta gen virus corona yang baru diproduksi di Institut Rekayasa Genetika dan Bioteknologi dari Pusat Penelitian Marmara di Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki.
Pengembangan produk bioteknologi ini masih terhalang Peraturan Permentan No 36 tahun 2016 tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pakan Produk Rekayasa Genetika.
Selama ini industri bioteknologi berbasis mikroalga dikuasai oleh perusahaan di luar negeri, seperti Amerika Serikat, Israel, Jepang, dan beberapa negara Eropa.
Rantai regulasi komersialisasi tanaman bioteknologi di Indonesia dinilai masih terlalu panjang.
Khawatiran produk China muncul setelah lebih seminggu. Pertama kali diberikan bahwa Changchun Changsheng Bioteknologi membuat catatan dan diperintahkan untuk menghentikan produksi vaksin rabies.