Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) tidak akan menuruti keinginan Presiden Donald Trump, untuk meledakkan 52 situs budaya bersejarah milik Iran.
Pemerintahan Trump membuat kesepakatan serupa dengan Honduras dan El Salvador tahun lalu .
Rouhani mengingatkan Trump tentang kejahatan yang dilakukan Angkatan Laut AS pada 1988 di mana USS Vincennes menghantam Airbus A300B2 Iran Air
Letnan Jenderal Soleimani adalah tokoh internasional yang memainkan peran utama dalam mempromosikan keamanan di negara-negara kawasan, khususnya di Irak dan Suriah.
Dilaporkan bahwa Brigadir Jenderal William Seely, yang mengawasi Satuan Tugas AS Irak, mengirim surat kepada kepala komando operasi gabungan Irak pada Senin (6/1), kurang dari seminggu setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani Iran.
Trump mengklaim bahwa militernya akan mencapai sasaran yang sangat penting, termasuk situs warisan budaya, jika Iran membalas kematian Letnan Jenderal Iran, Qassem Soleimani.
Menargetkan situs budaya dengan aksi militer dianggap sebagai kejahatan perang di bawah hukum internasional, sebuah poin yang sebelumnya diajukan para pejabat Iran.
Gertakan Trump itu disampaikan di akun Twitternya pada Senin (6/1), beberapa hari setelah memerintahkan secara langsung pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani di ibukota Irak, Baghdad.
Dalam pernyataan, Trump mengatakan, jika pasukannya pergi, maka Irak harus membayar Washington atas pembangunan pangkalan udara di sana.
Trump tidak yakin Korea Utara (Korut) akan melanggar upaya denuklirisasi, sebagaimana dijanjikan oleh Pemimpin Korut Kim Jong Un.