Kesaksian berlangsung dalam sesi tertutup, tak lama setelah penangkapan sementara Duta Besar Inggris untuk Iran, Rob Macaire
Agresi AS yang menewaskan Jenderal Soleimani membawa Gedung Putih ke jurang perang panas pertama dengan Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Dalam pidato yang disiarkan langsung, Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei menyoroti kehadiran militer AS yang sumber masalah di wilayah tersebut untuk segera angkat kaki.
Kantor berita al-Forat berbahasa Arab Irak melaporkan bahwa aliansi tersebut memutuskan memindahkan pusat komandonya dari ibukota Irak, Baghdad ke Kota Kuwait pada Selasa (7/1).
Kepala Eksekutif Afghanistan untuk Pemerintah Persatuan Nasional, Abdullah Abdullah menyesalkan agresi AS yang menewaskan Jenderal Soleimani.
Ia menyurati kepada Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, yang menyatakan, pembunuhan dengan dalih apa pun adalah contoh nyata terorisme negara dan merupakan tindakan kriminal yang melanggar prinsip dasar hukum internasional.
Pentagon mengatakan, serangan itu bertujuan menghalangi rencana serangan Iran ke depannya.
Militer Israel mengatakan sudah mensiagakan pasukannya untuk menanggapi kemungkinan ancaman dari Iran. Israel juga sudah menutup Gunung Hermon, resor ski di Dataran Tinggi Golan yang diduduki, bagi para pengunjung.
IRGC mengumumkan pada Jumat (3/1) pagi bahwa Mayor Jenderal Soleimani dan al-Muhandis menjadi tegwas dalam serangan yang helikopter AS. Kelompok pro-pemerintah Irak juga mengkonfirmasi insiden itu.
Kematian Soleimani tidak akan menghentikan misinya, justru para penjahat yang memiliki "darah" Soleimani dan para martir lainnya yang tewas dalam serangan tersebut akan memberikan pembalasan yang mengerikan.