Delegasi DPR RI melakukan kunjungan ke Turki pada 8-15 Oktober 2017. Kunjungan tersebut menguatkan kerjasama Indonesia-Turki terutama dalam pengembangan energi terbarukan khususnya energi panas bumi untuk program kelistrikan.
Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto menegaskan perlu adanya kepastian regulasi terkait pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk menggantikan energi fosil yang mendominasi kebutuhan energi di Indonesia.
Berbagai upaya masih terus dilakukan, termasuk menggenjot target Energi Baru Terbarukan sebesar 23% dalam bauran energi nasional tahun 2025.
Untuk meningkatkan komposisi EBT dalam bauran energi, Kemristekdikti sudah melihat paling tidak tiga hal yang harus didorong dalam Litbang.
Lingkup potensi kerja sama untuk nota kesepahaman yang berlaku selama lima tahun ini meliputi pengembangan usaha niaga, investasi, dan pembangunan pada sektor migas; pengembangan, investasi dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta konservasi energi.
Pemerintah membentuk tim lintas sektor untuk merumuskan tarif energi baru dan terbarukan yang dapat diterima semua pihak, baik produsen maupun konsumen.
Kementerian ESDM belum puas atas capaian investasi di sektor energi baru terbarukan yang baru mencapai USD$1,198 miliar pada triwulan-III 2016
Ia menegaskan dirinya tidak mendukung cagub petahana DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Pengembangan kendaraan listrik di tanah air ditunjang oleh keunggulan strategis karena Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang sangat besar