Hal ini dilakukan pasca terbunuhnya komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani, dalam serangan udara Amerika Serikat (AS).
Iran mengumumkan tidak akan lagi mematuhi Perjanjian Nuklir 2015, setelah Amerika Serikat (AS) membunuh komandan Pasukan Quds, Jenderal Qassem Soleimani
Pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah menyebut militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah (Timteng) akan membayar harga, atas terbunuhnya komandan Pasukan Quds, Qassem Soleimani
Kekuatan global memperingatkan agar seluruh pihak menahan diri, mengingat genderang perang sudah ditabuh oleh Washington di Timur Tengah.
Rencana itu akan diluncurkan sesuai dengan pernyataan baru-baru ini Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu tentang niatnya untuk menyetujui pembangunan 3.000 unit rumah di Tepi Barat dan Yerusalem al-Quds yang diduduki.
Brasil membuka kantor perdagangan di Yerusalem al-Quds dan mengumumkan niatnya untuk memindahkan kedutaannya di wilayah pendudukan dari Tel Aviv ke kota suci yang disengketakan tahun depan.
Komplotan intelijen Israel-Arab merekrut tim teroris memasuki Iran untuk menyerang Soleimani, yang memimpin Quds IRGC Force, di provinsi tenggara Kerman di negara itu.
Lewat cuitan di akun Twitter resminnya, Zarif mengatakan, tidak ada yang memiliki hak untuk menyerahkan Yerusalem (al-Quds) sebagai kiblat Muslim pertama.
Peserta aksi menyuarakan protes dan mengutul rencana perdamaian di Timur Tengah di bawah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pemimpin gerakan Yaman Houthi Ansarullah menegaskan kembali dukungan negaranya untuk Palestina dalam menghadapi pendudukan Israel