Serangan itu merupakan tanggapan terhadap perang yang dipimpin Arab Saudi di negara mereka. Namun, Riyadh dan Washington justru menduing Iran di balik serangan itu.
Output minyak negara itu turun hampir 1,3 juta barel per hari pada September, dari bulan sebelumnya, menurut data yang disampaikan kepada Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Televisi pemerintah Iran mengidentifikasi kapal sebagai tanker minyak Sinopa, tetapi NIOC kemudian mengklarifikasi nama kapal yang diserang adalah Sabiti.
Kapal tanker milik Perusahaan Minyak Nasional Iran tersebut, mengalami kerusakan parah dan menumpahkan minyak ke Laut Merah sekitar 60 mil dari Jeddah.
Afrika terus menjadi salah satu wilayah teratas dalam penemuan minyak dan gas skala besar. Tiga tahun lalu, lima dari 10 penemuan minyak terbesar terjadi di benua itu.
Iran menegaskan tidak akan menyerah pada tekanan Amerika Serikat (AS), dan akan menggunakan segala cara untuk mengekspor minyaknya.
Pemerintah Rusia dan raksasa minyak Rusia, Rosneft menyediakan setidaknya USD17 miliar pinjaman dan jalur kredit sejak 2006.
Arab Saudi menjarah lebih dari 18 juta barel ekspor minyak tahun lalu dan mengirim uang mereka ke Bank Nasional Saudi.
Jumlah pengeboran AS kini 151 unit, lebih sedikit dari periode yang sama tahun lalu sejumlah di 861, atau turun 17,5% year to year.
pabrik kelapa sawit dalam investigasi ini sama sekali tidak memiliki sistem monitoring dasar untuk memastikan bahwa minyak sawit yang mereka kelola tidak bersumber dari perusakan hutan hujan.