Rouhani mengatakan, sangat memalukan bagi AS setelah menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral 2015 yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.
Pada April 2015, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengajukan rencana perdamaian empat poin untuk Yaman ke PBB dalam upaya untuk mengakhiri pertumpahan darah di negara Arab.
Pejabat itu tidak memberikan informasi tentang apa dan berapa banyak item telah menerima pengecualian sanksi PBB.
Turki dan AS sepakat untuk membentuk zona aman yang membentang dari Sungai Efrat ke perbatasan Irak.
Tindakan itu, yang disebut tidak manusiawi Zarif, adalah bagian dari daftar tindakan yang diadopsi oleh pemerintahan Trump dalam upaya memaksakan tekanan maksimum pada Teheran.
Washington mengikis resolusi PBB tentang kerangka hukum internasional proses perdamaian Timur Tengah.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Lebih dari 2.000 orang ditahan, termasuk pengacara, pembela hak asasi manusia, aktivis politik, profesor universitas dan jurnalis pada 20-21 September.
Pernyataan itu disampaikan Rouhani dalam laman resminya, seusai menghadiri Sidang Umum PBB di New York, pada Jumat (27/9).
Amerika Serikat (AS) melakukan tindakan agresif terhadap seluruh bangsa, sementara PBB tetap membisu.