Jakarta, Jurnas.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone MQ-1 di wilayah udara sebelah timur Selat Hormuz, di tengah meningkatnya indikasi kemungkinan serangan militer baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
Kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, melaporkan pada Kamis bahwa operasi tersebut dilakukan oleh pasukan pertahanan udara IRGC. Insiden itu disebut terjadi di wilayah udara yang berhadapan dengan kawasan pesisir Sirik, Iran.
Menurut laporan ISNA yang mengutip IRGC, drone tersebut merupakan MQ-1 ke-14 yang diklaim berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara pasukan tersebut.
MQ-1 merupakan pesawat nirawak buatan Amerika Serikat. Namun, dalam pernyataan yang diberitakan ISNA, IRGC tidak menyebutkan siapa operator drone yang menjadi sasaran pencegatan tersebut. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah drone tersebut dioperasikan oleh militer AS atau pihak lain.
Insiden ini terjadi ketika perhatian tertuju pada kemungkinan eskalasi baru konflik Iran dengan AS dan Israel, yang berpotensi meningkatkan ketegangan keamanan di kawasan Teluk.
The Wall Street Journal melaporkan pada Selasa bahwa Washington telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan “kampanye militer singkat dan intensif” terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Menurut laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan final, tetapi disebut cenderung mempertimbangkan serangan berskala besar setelah pemilu tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pasokan energi global. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sebelumnya telah mengganggu keamanan kawasan tersebut.
Diketahui perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 memicu serangan balasan Iran menggunakan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan. Situasi itu juga menyebabkan pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu secara serius.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik juga belum menghasilkan kesepakatan perdamaian final. Nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni untuk membuka jalan menuju kesepakatan tersebut akhirnya kandas akibat sejumlah perbedaan, termasuk persoalan navigasi di Selat Hormuz. (*)
Sumber: Anadolu






