News

Timteng Memanas, Bank Dunia Proyeksikan Harga Komoditas Global Naik 23 Persen

Harga komoditas global diproyeksikan melonjak 23 persen pada 2026 dan mencapai level tertinggi kedua sejak 2013
Ilustrasi - The World Bank atau Bank Dunia (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Harga komoditas global diproyeksikan melonjak 23 persen pada 2026 dan mencapai level tertinggi kedua sejak 2013. Bank Dunia memperingatkan konflik di Timur Tengah, gangguan pelayaran di Laut Hitam, serta cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi, pangan, logam, dan sejumlah bahan baku industri.

Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2026 yang dirilis pada Rabu, Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga komoditas akan diikuti penurunan sebesar 7 persen pada 2027 dan 8,8 persen pada 2028. Penurunan itu diperkirakan terjadi seiring berangsur pulihnya pasokan.

Namun, tekanan harga pada 2026 diperkirakan cukup besar, terutama di sektor energi. Harga energi global diproyeksikan melonjak 32 persen tahun ini, lebih tinggi daripada perkiraan Bank Dunia pada April lalu.

Bank Dunia memperkirakan harga minyak mentah Brent rata-rata mencapai US$91 per barel pada 2026, naik dari US$69 per barel pada 2025. Harga tersebut diproyeksikan turun menjadi US$79 per barel pada 2027 dan US$70 per barel pada 2028.

Kenaikan harga terjadi di tengah proyeksi penurunan pasokan minyak global sebesar 5,5 juta barel per hari atau 5,2 persen pada 2026. Jika terealisasi, penurunan ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade di luar resesi akibat pandemi pada 2020.

Pasokan yang menyusut dan harga yang lebih tinggi diperkirakan menekan konsumsi minyak global sebesar 2,5 persen atau 2,6 juta barel per hari pada tahun ini. Penurunan tersebut akan menjadi yang terbesar ketiga dalam catatan tahunan, setelah 2020 dan 1980.

Tekanan energi juga diperkirakan terasa di pasar gas alam. Harga gas alam Eropa diproyeksikan melonjak 58,3 persen pada 2026 menjadi US$19 per juta British thermal unit (MMBtu), antara lain akibat berkurangnya pengiriman gas alam cair atau LNG melalui Selat Hormuz. Pada 2027, harga gas Eropa diperkirakan turun 7,9 persen.

Kenaikan harga energi diperkirakan merembet ke sektor pangan melalui meningkatnya biaya produksi dan input pertanian. Bank Dunia memproyeksikan harga komoditas pangan naik 10,3 persen pada 2026, kemudian bertambah 7,2 persen pada 2027.

Gangguan pelayaran di Laut Hitam dan pola cuaca El Niño yang kuat juga diperkirakan menambah tekanan terhadap pasokan pangan global.

Harga biji-bijian diproyeksikan naik 14,1 persen pada 2026 dan kembali meningkat 9,3 persen pada 2027. Gandum menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak, dengan harga diperkirakan melonjak 28 persen pada tahun ini ketika produksi gandum global menyusut 3 persen.

Berbeda dengan pangan pokok, harga komoditas minuman diperkirakan turun 23,9 persen pada 2026 seiring pemulihan produksi kopi dan kakao.

Sementara itu, harga pupuk diproyeksikan naik 14,3 persen tahun ini sebelum turun 12,4 persen pada 2027. Pergerakan harga pupuk menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena biaya input pertanian turut memengaruhi biaya produksi pangan.

Lonjakan harga tidak hanya terjadi pada energi dan pangan. Indeks harga logam dan mineral Bank Dunia diperkirakan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 2026, dengan kenaikan 24,5 persen.

Kenaikan tersebut didorong keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, serta pusat data.

Harga aluminium, tembaga, dan timah dilaporkan telah mencapai rekor sejak April. Untuk tembaga, Bank Dunia memperkirakan harga rata-rata mencapai US$13.200 per ton metrik pada 2026, meningkat 32,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2027, harga tembaga diproyeksikan turun tipis 1,5 persen.

Logam mulia juga diperkirakan mengalami kenaikan tajam akibat meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketegangan geopolitik.

Harga logam mulia secara keseluruhan diproyeksikan melonjak 39,9 persen pada 2026 sebelum turun 8,3 persen pada 2027. Kenaikan suku bunga di negara-negara maju pada tahun berikutnya diperkirakan turut menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Harga emas diperkirakan mencapai rekor rata-rata US$4.600 per troy ounce pada 2026, naik 33,6 persen dibandingkan 2025. Pada 2027, harganya diproyeksikan turun menjadi US$4.250 per troy ounce.

Adapun harga perak diperkirakan melonjak 75,9 persen menjadi US$70 per ounce pada 2026.

Bank Dunia juga memperingatkan risiko yang lebih buruk jika konflik di Timur Tengah semakin meluas, gangguan pasokan minyak Rusia berlangsung lama, dan El Niño menyebabkan kerusakan tanaman yang parah.

Dalam skenario tersebut, harga minyak mentah Brent rata-rata berpotensi mencapai US$105 per barel pada 2027.

Harga komoditas pangan dalam skenario buruk itu diperkirakan 12 persen lebih tinggi daripada proyeksi dasar untuk 2027. Kenaikan tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan memperburuk kerawanan pangan.

Bank Dunia mencatat sebanyak 779 juta orang di seluruh dunia terdampak kerawanan pangan pada 2025. Kenaikan harga pangan akibat gangguan pasokan dan cuaca dapat menambah tekanan terhadap kelompok masyarakat yang rentan.

Untuk membantu negara-negara menghadapi tekanan fiskal dan dampak ekonomi konflik Timur Tengah, Grup Bank Dunia telah menyediakan pendanaan sebesar US$50 miliar hingga US$60 miliar. Sebanyak US$8,7 miliar di antaranya telah disalurkan kepada 25 negara. (*)

Sumber: Anadolu