https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Empat Pola Asuh yang Memicu Perilaku Bullying

Eka Wahyu Pramita | Rabu, 10/04/2019 16:35 WIB



Pola asuh, walaupun itu berasal dari luar diri anak, namun erat kaitannya dengan pembentukan karakter dan kepribadian anak. Psikolog Nuzulia Rahma (Foto: Dok. Pribadi)

Jakarta, Jurnas.com - Sedang viral kasus siswi SMP di Pontianak yang mengalami pengeroyokan boleh siswi SMA berlatar asmara. Kasus tersebut memicu perhatian dan keprihatinan banyak pihak.

Salah satu faktor penyebab yang paling dekat menurut Psikolog Nuzulia Rahma Tristinarum ialah faktor internal, hal hal yang datang dari dalam diri diantaranya karakter dan persepsi anak.

Hal ini sangat erat kaitannya dengan pola asuh orang tua. Bagaimana anak diasuh dan dididik oleh orang tuanya.
"Pola asuh, walaupun itu berasal dari luar diri anak, namun erat kaitannya dengan pembentukan karakter dan kepribadian anak," ucap Lia melalui instant messenger kepada Jurnas.com.

Baca juga :
Studi: Orang Tua Kini Tak Keberatan Anak Berkata Kasar

Beberapa pola asuh yang dapat menimbulkan perilaku bullying menurut Lia adalah:

1. Diabaikan

Baca juga :
Studi: Pola Asuh Otoritatif Paling Efektif Jaga Kesehatan Mental Remaja

Terutama diabaikan emosinya. Kurang pelukan dan perhatian dalam segi waktu. Tidak adanya attachment dengan orang tuanya.

"Saat anak diabaikan, ia akan mencari pengakuan dan perhatian dari orang lain atau lingkungannya. Saat inilah peran lingkungan mengambil alih anak," ucapnya.

Baca juga :
Awas, Ini 7 Dampak Negatif Nonton Video Syur pada Anak

2. Kekerasan yang dilihat dan dirasakan anak.

Misalnya anak yang melihat orang tuanya kasar akan meniru perilaku tersebut. Misalnya kasar terhadap pasangan, kasar terhadap anak (diri si anak) dan kasar terhadap orang yang dianggap lebih lemah dan rendah (pembantu, supir, pegawai, dll)

3. Dimanjakan, selalu dituruti keinginannya.

Anak yang selalu dituruti keinginannya tanpa batasan, akan merasa bahwa dia dapat melakukan apapun yang dia mau tanpa merasa bersalah. Apalagi jika berkaitan dengan uang.

"Anak yang "dibeli" dengan uang, artinya kebutuhan psikologisnya diganti dengan materi dan uang, ia akan melakukan hal yang sama. Mengganti sikap dan perilaku dengan uang. Ia akan merasa bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan uang," imbuh Lia.

4. Tidak diajak berpikir kritis

Dalam hal ini, anak tidak dilatih untuk melihat dan memilih apa yang baik dan tidak baik, apa yang boleh dan tidak boleh. Berpikir kritis dimulai dari balita.

"Misalnya anak diajarkan dan diberi kepercayaan untuk memilih bajunya sendiri. Saat usia anak lebih besar, diberi kepercayaan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tentu saja sambil tetap didampingi dan diobservasi," ujarnya memberi ilustrasi.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Pola Asuh Bullying Anak

Terpopuler

Selasa, 07/07/2026 06:06 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Norwegia

Selasa, 07/07/2026 04:04 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Prancis vs Maroko

Rabu, 08/07/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Spanyol vs Belgia

Selasa, 07/07/2026 11:44 WIB
Olahraga

Persib Resmi Lepas Andrew Jung dengan Harga Fantastis

Humanika

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777