https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Coconut School, Bayar Sekolah Modal Sampah

Mutiul Alim | Jum'at, 12/10/2018 13:39 WIB



Coconut School terletak di sebuah taman nasional di Kamboja. Hampir seluruh bangunannya merupakan limbah daur ulang. Coconut School, sekolah berbasis sampah di Kamboja (Foto: AFP)

Phnom Phen – Upaya meningkatkan taraf pendidikan dan mengurangi limbah rupanya bisa dilakukan sekaligus. Seperti yang dipraktikkan oleh sekolah `Coconut School` di Kamboja, di mana para siswanya bebas bersekolah dengan bayaran sampah.

Roeun Bunthon, salah satu siswa didik di Coconut School mengatakan, sebelum memutuskan belajar di sekolah tersebut, dia menjalani kesehariannya sebagai pengemis jalanan.

Namun hanya dengan berbekal sampah, kini dia dapat mengambil pelajaran komputer, matematika, dan bahasa, sekaligus belajar cara mengurangi limbah penyebab polusi udara di negaranya.

Baca juga :
5 Negara dengan Tradisi Sambut Idul Adha Paling Unik di Dunia

“Aku sudah berhenti mengemis. Rasanya aku punya kesempatan lain,” ujar Bunthon dilansir dari AFP pada Jumat (12/10).

Baca juga :
Lima Tradisi Unik di Dunia dalam Merayakan Kenaikan Yesus Kristus

Coconut School terletak di sebuah taman nasional di Kamboja. Hampir seluruh bangunannya menggunakan sampah dan limbah yang didaur ulang.

65 anak-anak yang terdaftar di Coconut School, belajar di bawah dinding kelas yang terbuat dari ban mobil yang dicat, dan pintu masuk kelas yang dihiasi oleh mural bendera kamboja, yang seluruhnya terbuat dari tutup botal warna-warni.

Baca juga :
Warga Keluhkan Bau Busuk Sampah Nyaris Tutup Akses Jalan di Benhil

Adalah Ouk Vanday, pria berjuluk `Manusia Sampah` yang merupakan seorang mantan manajer hotel, sebagai sosok di balik Coconut School. Dia mendambakan Kamboja bebas sampah di kemudian hari.

“Saya menggunakan sampah untuk mendidik anak-anak dengan mengubah sampah menjadi ruang kelas, sehingga anak-anak akan memahami nilai menggunakan sampah dengan cara bermanfaat,” terang Vanday.

Selanjutnya, pria 34 tahun itu berencana memperluas kelas di daerah-daerah miskin, di Provinsi Kampong Speu guna mengakomodasi 200 anak-anak.

“Kami harap mereka akan jadi aktivis baru di Kamboja, memahami penggunaan, manajemen, dan daur ulang limbah,” tuturnya.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Coconut School Unik Kamboja Sampah

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777