ilustrasi anak stunting
Jakarta - Stunting masih menjadi salah satu ancaman bagi anak Indonesia. Stunting membawa dampak negatif, tidak hanya pada hidup si anak, tapi juga pada potensi bonus demografi. Untuk itu permasalahan yang satu ini harus diselesaikan dan diatasi mulai sejak anak berada di dalam kandungan.
Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, Indonesia diperkirakan akan menyongsong bonus demografi pada 2030 mendatang.Hizkia menjelaskan, anak mengalami pertumbuhan yang pesat pada usia 0-6 tahun. Pada fase ini, pertumbuhan otaknya mencapai 95 persen. Sedangkan pada fase usia berikutnya (6-12 tahun), pertumbuhannya dapat dikatakan stabil. Setelah usianya 6 tahun atau lebih, pertumbuhan otaknya adalah 5 persen.
Pertumbuhan yang cepat kembali terjadi pada usia 12-18 tahun. Pemenuhan gizi pada anak sangat penting di semua fase pertumbuhannya, terutama pada 1.000 hari pertama kelahirannya atau pada usia 0-3 tahun.“Stunting bisa berdampak hingga anak dewasa. Hal ini akan membuat anak tidak bisa maksimal dalam mengembangkan potensinya. Anak stunting juga akan memiliki potensi kerugian waktu dan tenaga karena memiliki tubuh yang rentan terkena penyakit. Belum lagi potensi kerugian ekonomi karena harus terus mendapatkan perawatan kesehatan akibat sakit yang diderita karena stunting,” terangnya.Gizi seimbang adalah asupan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Pemenuhan gizi pada anak dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan.
Selasa, 14/07/2026 08:56 WIB
Selasa, 14/07/2026 05:50 WIB