Ilustrasi - 5 Strategi Cegah Anak Jadi Korban atau Pelaku Bullying di Sekolah (Foto: Pexels/Rdene Stock Project)
Jakarta, Jurnas.com - Bullying atau perundungan di sekolah bukan sekadar konflik anak-anak. Ia bisa meninggalkan luka psikologis jangka panjang, baik bagi korban maupun pelaku. Di Indonesia, kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih terus terjadi, dan peran keluarga sangat vital dalam upaya pencegahannya.
Berikut lima strategi efektif yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak menghindari bullying — sebagai korban maupun pelaku:
Anak yang mampu merasakan emosi orang lain cenderung tidak melakukan perundungan. Orang tua dapat mengajarkan empati melalui cerita, diskusi, dan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tanyakan, "Bagaimana perasaan temanmu jika itu terjadi padanya?" untuk menumbuhkan kepekaan sosial.
Banyak anak enggan bercerita soal pengalaman buruk di sekolah. Buatlah rutinitas ngobrol santai setiap hari — bukan sekadar tanya nilai — tapi gali juga pengalaman emosional mereka. Anak yang merasa didengar akan lebih terbuka dan lebih siap menghadapi tekanan sosial.
Anak yang mudah marah atau frustrasi lebih rentan menjadi pelaku bullying. Ajari teknik mengatur emosi, seperti menarik napas dalam, berhitung sebelum bereaksi, atau menulis jurnal. Kelas seni, musik, atau olahraga juga efektif membantu mereka menyalurkan energi secara positif.
Anak perlu tahu bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” terhadap perilaku yang menyakiti. Latih anak untuk berbicara tegas dan mencari bantuan dari guru atau orang dewasa ketika dibutuhkan. Keberanian ini bukan tanda kelemahan, tapi perlindungan diri.
Orang tua bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Pastikan sekolah memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas, ruang konseling yang aman, dan guru yang terlatih dalam mendeteksi tanda-tanda perundungan. Jangan ragu berdialog dengan pihak sekolah jika ada indikasi masalah.
Mencegah bullying bukan pekerjaan semalam. Dibutuhkan perhatian terus-menerus dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Anak yang tumbuh dalam lingkungan suportif cenderung lebih percaya diri dan menghargai orang lain. Dan di situlah, upaya pencegahan bullying bisa benar-benar dimulai. (*)
Kamis, 07/05/2026 23:55 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB