https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Adab Media Sosial dalam Perspektif Islam, Hindari Fitnah Sebar Kebaikan

Agus Mughni | Selasa, 10/06/2025 13:05 WIB



Dalam perspektif Islam, media sosial bukan sekadar sarana hiburan atau komunikasi, melainkan juga medan dakwah sekaligus ujian. Ilustrasi sedang menggunakan media sosial (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari Instagram, TikTok, Facebook, hingga WhatsApp, platform-platform ini memudahkan komunikasi, berbagi informasi, hingga membangun jejaring sosial dengan cepat dan mudah. Namun, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga menghadirkan tantangan besar berupa penyebaran informasi salah, fitnah, dan ujaran kebencian yang kian meresahkan.

Dalam perspektif Islam, media sosial bukan sekadar sarana hiburan atau komunikasi, melainkan juga medan dakwah sekaligus ujian. Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah, fitnah—yang bisa berupa kebohongan dan berita palsu—dapat membawa dampak lebih berat daripada pembunuhan. Hal ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam bermedia sosial.

Tabayyun Sebelum Sebar Informasi

Dikutip dari berbagai sumber, salah satu adab utama yang sangat ditekankan dalam Islam adalah tabayyun atau klarifikasi. Dalam QS Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan agar setiap informasi yang diterima dicek kebenarannya terlebih dahulu sebelum disebarkan. Langkah ini adalah benteng utama melawan hoaks dan fitnah yang dapat merusak tatanan sosial umat. Dengan menerapkan tabayyun, pengguna media sosial berperan aktif menjaga keharmonisan dan kedamaian di ranah digital.

Baca juga :
Menag: Tak Ada Dalil yang Bisa Menyebabkan Perempuan Itu Terpinggirkan

Jaga Lisan dan Tulisan

Ucapan dan tulisan yang tersebar di media sosial bukanlah hal sepele. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.” Prinsip ini harus dijadikan pegangan untuk menjaga tutur kata di dunia maya. Hindari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan ujaran kebencian—ketiganya adalah bentuk fitnah yang dapat merusak hubungan sosial dan moral umat.

Menebar Kebaikan dan Ilmu Pengetahuan

Selain menghindari hal-hal negatif, Islam justru mendorong penggunaan media sosial untuk menyebarkan kebaikan dan ilmu. Media sosial dapat menjadi kanal dakwah kreatif dan inspiratif, misalnya berbagi ayat Al-Qur’an, hadis, atau nasihat singkat yang menyentuh hati. Konten positif tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga mengajak komunitas digital untuk berperilaku lebih baik.

Baca juga :
20 Ucapan Hari Buku Nasional yang Penuh Makna dan Inspiratif

Hormati Privasi, Etika Penting di Dunia Maya

Adab lain yang sering terabaikan adalah menjaga privasi. Dalam Islam, menghormati privasi orang lain adalah kewajiban. Oleh karena itu, hindari membagikan data pribadi, foto, atau percakapan tanpa izin. Setiap unggahan harus dipertimbangkan matang apakah pantas dipublikasikan, terutama jika melibatkan orang lain atau informasi sensitif. (*)

Baca juga :
Mengenal Hari Tasyrik: Makna, Asal Usul hingga Larangan Puasa
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Adab Bermedsos Media Sosial Hari media sosial Islam

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777