https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Bernd Schuster, Seniman Lapangan yang Sulit Dikekang

Mutiul Alim | Sabtu, 10/05/2025 18:01 WIB



Di antara rivalitas yang membara antara Madrid, Barcelona, dan Atletico, Schuster menari di lapangan hijau bak seniman yang enggan tunduk pada fanatisme sepak bola. Duo legenda Barcelona, Bernd Schuster (kiri) dan Diego Maradona (Foto: Football-Espana)

Jakarta, Jurnas.com - Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid, sejak dulu menjadi wajah Spanyol di pentas sepak bola Eropa dan dunia. Karena itu, tak heran fanatisme tumbuh subur di antara penggemar ketiga klub.

Namun, sejarah mencatat bahwa ada satu pemain yang pernah membela ketiga klub tersebut dalam karir profesionalnya. Pemain itu ialah Bernd Schuster. Uniknya, kepindahan gelandang bintang ini tak pernah memantik kebencian fans.

Di antara rivalitas yang membara antara Madrid, Barcelona, dan Atletico, Schuster menari di lapangan hijau bak seniman yang enggan tunduk pada fanatisme sepak bola.

Baca juga :
Juara Liga Spanyol, Flick Sampaikan Pesan Emosional untuk Fans

Gelandang asal Jerman Barat ini memulai petualangannya di Spanyol bersama Barcelona pada awal 1980-an. Di sana, dia tampil sebagai jenderal lini tengah dengan visi luar biasa dan kaki kiri penuh sihir.

Usai enam musim yang diwarnai trofi dan konflik, Schuster memutuskan hengkang ke Real Madrid. Fans Blaugrana tentu tak senang, tapi kepergiannya terasa seperti klimaks dari drama yang terlalu panjang, alih-alih sebuah aksi pengkhianatan.

Baca juga :
Real Madrid Kalah, Arbeloa Beri Pesan Khusus untuk Madridista

Di Santiago Bernabeu, Schuster menggenggam tiga gelar La Liga. Kemudian, secara mengejutkan, dia pindah lagi ke Atlético, serta uniknya masih tetap tampil dominan tanpa menyulut api permusuhan dari Madridista.

Tak seperti pemain lain yang dicerca karena lompat pagar, Schuster justru dikenang sebagai pemain yang membuat setiap klub merasa seperti rumah.

Baca juga :
Ferran Torres: El Clasico Kali Ini Paling Spesial untuk Barcelona

Yang membuatnya tak dibenci justru gaya bermainnya sendiri. Schuster bukan figur politis atau simbol loyalitas yang dipecah belah. Dia tampil seperti puisi bergerak, mengalirkan bola dengan presisi, menyulam ruang antar pemain, dan mengatur ritme permainan seperti konduktor orkestra.

Penampilannya mengundang kekaguman lintas warna dan lambang. Bagi banyak fans, dia lebih mirip seniman daripada prajurit, dan itu menyelamatkannya dari stigma saat berpindah dari satu rival ke rival lainnya.

Namun, seindah kariernya di klub, panggung tim nasional justru dia tinggalkan lebih awal. Schuster tampil cemerlang di Euro 1980, membawa Jerman Barat menjadi juara saat usianya baru menginjak 20 tahun.

Tapi hubungan panas dengan pelatih Jupp Derwall dan sikap keras terhadap federasi Jerman membuatnya menarik diri. Ia merasa ruang tim nasional terlalu kaku, terlalu politis, dan tidak memberi tempat bagi karakter bebas seperti dirinya.

Keputusan itu membuatnya tak pernah menyentuh satu pun Piala Dunia, bahkan ketika Jerman melaju ke final 1986 dan juara pada 1990. Schuster lebih memilih ketenangan, keluarga, dan klub sebagai panggung utamanya.

Bagi publik Jerman, dia mungkin pengkhianat. Tapi bagi mereka yang menyaksikan keindahan sepak bola dari sisi estetika, Schuster adalah anomali indah, yakni seorang virtuoso yang tak bisa dikekang oleh batas, bendera, atau fanatisme.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Bernd Schuster Legenda Barcelona Real Madrid

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777