Ilustrasi kompleks industri (Foto: Shutterstock/Arab News)
Jakarta, Jurnas.com - Emisi industri petrokimia dunia ternyata sangat terkonsentrasi pada sebagian kecil fasilitas. Analisis terhadap sekitar 37.000 fasilitas petrokimia menunjukkan bahwa hanya 10 persen fasilitas menyumbang 53 persen emisi industri tersebut.
Temuan ini memberikan gambaran paling rinci mengenai sumber emisi petrokimia hingga tingkat pabrik individual. Peneliti juga memperkirakan emisi industri ini dapat meningkat 50 persen pada 2050 jika pola produksi dan kebijakan saat ini tidak berubah.
Untuk membuat hasil penelitian lebih mudah digunakan, tim peneliti membangun dasbor yang dapat diakses secara terbuka. Platform tersebut memungkinkan pelaku industri, pembuat kebijakan, dan peneliti melihat lokasi serta besaran emisi dari fasilitas petrokimia secara lebih terperinci.
Dikutip dari Earth, data tersebut dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang paling membutuhkan intervensi. Upaya seperti peningkatan efisiensi, elektrifikasi, perubahan bahan baku, hingga penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dapat diarahkan ke fasilitas yang berpotensi memberikan dampak terbesar terhadap pengurangan emisi.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan teknologi produksi saja belum cukup untuk mengatasi persoalan emisi petrokimia.
“Emisi dari industri petrokimia sudah sangat besar, tetapi penelitian kami menemukan bahwa emisi tersebut berada di jalur untuk meningkat 50 persen pada 2050 dalam skenario bisnis seperti biasa,” kata Meng.
Persoalannya juga berkaitan dengan posisi industri petrokimia yang sangat melekat dalam kehidupan modern. Produk petrokimia digunakan dalam berbagai sektor manufaktur, pertanian, hingga barang-barang konsumsi sehari-hari.
“Sayangnya, mengingat kompleksitas industri petrokimia dan peran pentingnya dalam menopang banyak produk sehari-hari yang menjadi bagian dari masyarakat modern, tidak ada solusi tunggal,” ujar Meng.
Para peneliti kemudian menguji skenario yang jauh lebih optimistis. Skenario tersebut menggabungkan dekarbonisasi besar-besaran jaringan listrik, penerapan penuh teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang memenuhi syarat, serta ketersediaan bahan baku berbasis hayati dalam jumlah yang memadai.
Hasilnya tetap belum mampu membawa industri petrokimia mencapai net zero pada 2050.
“Bahkan skenario yang sangat optimistis yang menggabungkan dekarbonisasi substansial jaringan listrik, penerapan lengkap penangkapan dan penyimpanan karbon yang memenuhi syarat, serta bahan baku berbasis hayati yang memadai masih belum membawa sektor ini mencapai net zero pada 2050,” kata Meng.
Karena itu, peneliti menilai pengurangan permintaan terhadap produk petrokimia harus menjadi bagian dari solusi, bersamaan dengan upaya membuat proses produksinya lebih bersih.
Temuan tersebut menggeser sebagian perhatian dalam upaya mengurangi emisi industri. Selama ini, pembahasan mengenai industri berat banyak berfokus pada cara menghasilkan produk secara lebih bersih melalui teknologi, energi rendah karbon, dan proses produksi yang lebih efisien.
Untuk industri petrokimia, penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki batas. Mengurangi kebutuhan terhadap produk petrokimia perlu berjalan berdampingan dengan upaya membersihkan proses produksinya.
Meski demikian, teknologi seperti penangkapan karbon, elektrifikasi, dan perubahan bahan baku tetap memiliki peran penting. Pemetaan hingga tingkat fasilitas memberikan titik awal yang lebih jelas bagi pemerintah dan industri untuk menentukan lokasi yang perlu menjadi prioritas pengurangan emisi.
Fakta bahwa lebih dari separuh emisi berasal dari hanya sepersepuluh fasilitas juga memberikan daftar prioritas yang jauh lebih terarah bagi regulator dan perusahaan. Tantangan berikutnya adalah mengubah data tersebut menjadi kebijakan, investasi, dan langkah nyata untuk mengurangi emisi.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability. (*)
Sumber: Earth
Senin, 14/09/2026 10:49 WIB
Senin, 14/09/2026 10:46 WIB
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB