https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Fenomena Telinga Bindeng di Pesawat, Apa Penyebabnya?

Mutiul Alim | Jum'at, 04/09/2026 13:39 WIB



Bagi pelaku perjalanan moda transportasi udara, pasti akrab dengan sensasi telinga mendadak bindeng, tersumbat, atau muncul nyeri ketika pesawat lepas landas Ilustrasi pesawat terbang (Foto: Y S/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Bagi pelaku perjalanan moda transportasi udara, pasti akrab dengan sensasi telinga mendadak bindeng, tersumbat, atau muncul rasa nyeri ketika pesawat mulai lepas landas hingga mendarat.

Meski sepele, rasa tidak nyaman yang ditimbulkan tak jarang membuat momen perjalanan udara menjadi kurang menyenangkan. Dalam dunia medis, fenomena ini dikenal dengan istilah barotrauma telinga. Lantas, mengapa telinga kita bisa bereaksi demikian saat berada di dalam kabin pesawat?

Untuk memahami penyebabnya, perlu melihat mekanisme tubuh bekerja menghadapi perubahan lingkungan sekitar. Telinga manusia memiliki tiga bagian, yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Di antara telinga luar dan tengah, terdapat lapisan tipis dan fleksibel yang dikenal dengan gendang telinga.

Di balik gendang telinga ini terdapat sebuah saluran kecil bernama saluran Eustachius, yang menghubungkan bagian dalam telinga dengan belakang hidung dan tenggorokan. Saluran inilah yang menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga.

Ketika pesawat mulai terbang tinggi atau saat turun hendak mendarat, tekanan udara di dalam kabin pesawat berubah dengan sangat cepat. Pada saat lepas landas, tekanan udara di luar telinga menurun drastis, sehingga udara di dalam rongga telinga tengah terdorong ke luar.

Sebaliknya, saat pesawat hendak mendarat, tekanan udara di dalam kabin meningkat secara mendadak dan menekan gendang telinga ke arah dalam. Perbedaan tekanan udara antara dunia luar dan rongga telinga inilah yang membuat gendang telinga teregang dan menciptakan sensasi tersumbat, pengang, hingga rasa sakit.

Dalam kondisi normal, saluran Eustachius akan otomatis terbuka untuk menyamakan tekanan udara di dalam telinga dengan tekanan di luar. Namun, karena perubahan ketinggian pesawat terjadi begitu cepat, saluran ini terkadang kewalahan atau terlambat terbuka.

Kondisi ini bisa terasa semakin parah apabila seseorang sedang mengalami flu, batuk, atau alergi, sebab pembengkakan di area hidung dan tenggorokan dapat menyumbat saluran Eustachius sehingga udara makin sulit mengalir secara alami.

Lalu, apa yang bisa dilakukan saat berada di situasi tersebut? Untungnya, ada beberapa cara sederhana yang sangat efektif untuk membantu telinga beradaptasi.

Langkah paling mudah adalah dengan memicu gerakan menelan. Anda bisa mengunyah permen karet, mengulum permen keras, minum air sedikit demi sedikit, atau sekadar menguap secara sengaja. Gerakan otot di area tenggorokan saat menelan dan menguap akan memancing saluran Eustachius untuk terbuka, sehingga tekanan udara kembali seimbang dan biasanya ditandai dengan bunyi pop kecil di telinga.

Selain mengunyah, Anda juga bisa mencoba teknik hembusan napas perlahan. Caranya cukup dengan menutup mulut rapat-rapat, menjepit kedua lubang hidung menggunakan jari, lalu menghembuskan udara secara perlahan melalui hidung seolah sedang membuang ingus.

Langkah ini mendorong udara masuk ke saluran telinga dan meredakan rasa pengang. Namun ingat, lakukan teknik ini secara lembut dan tidak terlalu keras agar tidak melukai gendang telinga.

Hal penting lain yang sering terabaikan adalah menghindari tidur saat pesawat mulai melakukan proses penurunan untuk mendarat. Ketika tidur, frekuensi menelan manusia berkurang drastis sehingga tubuh tidak secara aktif merespons perubahan tekanan.

Bagi Anda yang sering mengalami masalah ini, menggunakan sumbat telinga khusus penerbangan (earplanes) atau mengonsumsi obat pereda hidung tersumbat sesuai petunjuk dokter sebelum terbang juga bisa menjadi pilihan pencegahan yang tepat.

Secara umum, rasa pengang pada telinga akan hilang dengan sendirinya beberapa saat setelah pendaratan. Namun, jika rasa sakit berlanjut hingga beberapa hari, atau disertai dengan pusing berputar dan gangguan pendengaran, ada baiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter spesialis THT untuk memastikan telinga tetap dalam kondisi sehat.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Telinga Bindeng Barotrauma Telinga Saluran Eustachius

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777