Ilustrasi krisis air bersih (foto: Doknet)
Jakarta, Jurnas.com - Krisis air dunia bukan hanya soal berkurangnya persediaan air. Kualitas air yang memburuk akibat kenaikan suhu, salinitas, polusi, dan pencemaran biologis berpotensi membuat miliaran orang kesulitan mendapatkan air yang sesuai untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebuah analisis global memproyeksikan hampir 67 persen populasi dunia dapat menghadapi kesenjangan air bersih yang parah pada akhir abad ini dalam salah satu skenario masa depan dengan pertumbuhan penduduk tinggi, emisi gas rumah kaca relatif tinggi, persaingan antarwilayah, dan kemampuan adaptasi yang terbatas.
Angka tersebut bukan ramalan pasti. Peneliti menekankan bahwa proyeksi itu menggambarkan salah satu kemungkinan masa depan yang penuh tekanan terhadap sumber daya air.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal npj Clean Water menunjukkan bahwa persoalan air perlu dilihat dari dua sisi sekaligus, yakni jumlah air yang tersedia dan kualitas air tersebut.
Gabriel A. Cardenas Belleza dari Utrecht University, yang menjadi peneliti utama, mengatakan sungai yang masih memiliki banyak air belum tentu dapat digunakan untuk semua kebutuhan.
“Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang seberapa banyak air yang tersedia, tetapi juga apakah kualitasnya sesuai dengan kebutuhan penggunaannya,” kata Cardenas Belleza.
Peneliti menggunakan istilah water gap untuk menggambarkan kebutuhan air yang tidak terpenuhi setelah pasokan berkelanjutan dialokasikan.
Sementara itu, clean water gap mencakup kondisi ketika air sebenarnya tersedia, tetapi kualitasnya tidak memenuhi kebutuhan tertentu.
Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena setiap sektor memiliki standar air yang berbeda. Rumah tangga, pertanian, peternakan, industri manufaktur, hingga pembangkit listrik membutuhkan air dengan karakteristik yang tidak selalu sama.
Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis lima kebutuhan utama, yakni rumah tangga, irigasi, peternakan, manufaktur, dan pembangkit listrik tenaga termal.
Model yang digunakan memantau kondisi bulanan dari 2005 hingga 2100 dengan menggabungkan data pasokan dan penggunaan air serta kualitas air permukaan. Faktor yang diperhitungkan antara lain suhu, salinitas, polusi organik, dan bakteri dari kotoran.
Salah satu temuan penting berkaitan dengan suhu air. Air yang semakin hangat dapat menjadi persoalan serius bagi industri manufaktur dan pembangkit listrik tenaga termal yang menggunakan air untuk mendinginkan peralatan.
Ketika standar kualitas air dimasukkan ke dalam perhitungan, kesenjangan air relatif untuk kedua sektor tersebut meningkat sekitar 20 persen.
Kondisi itu terutama dipicu oleh kenaikan suhu air permukaan yang membuat sumber air tertentu tidak lagi ideal untuk sistem pendinginan.
Gelombang panas juga berpotensi memperburuk persoalan. Air sungai yang terlalu panas dapat mengganggu proses operasional pabrik maupun pembangkit listrik.
Artinya, suatu wilayah bisa saja tidak mengalami kekurangan air secara kuantitas, tetapi tetap menghadapi masalah karena air yang tersedia tidak lagi memenuhi kebutuhan industri.
Afrika Sub-Sahara dan Timur Tengah termasuk kawasan dengan prospek tekanan air paling berat dalam skenario penelitian.
Di Afrika Sub-Sahara, kebutuhan air domestik diproyeksikan meningkat hingga 1.225 persen, sedangkan kesenjangan air bersih secara keseluruhan meningkat hampir 2.000 persen.
Pertumbuhan penduduk menjadi salah satu faktor utama. Kondisi tersebut semakin berat karena ketersediaan air bersih di kawasan tersebut sudah menghadapi tekanan.
Namun, meningkatnya penggunaan air juga dapat memperburuk kualitas sumber air. Ketika volume air berkurang sementara jumlah polutan tetap ada atau bertambah, konsentrasi pencemar dapat meningkat.
Situasi itu kemudian menciptakan persaingan yang semakin besar antara kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri dan sektor energi.
Dalam skenario dengan tekanan tinggi tersebut, hampir 67 persen populasi dunia berpotensi mengalami severe clean water gap pada akhir abad ini.
Dalam penelitian, kondisi tersebut berarti sedikitnya 30 persen kebutuhan air tidak terpenuhi selama setidaknya satu bulan dalam setahun.
Cardenas Belleza memperingatkan bahwa krisis air masa depan tidak dapat dihitung hanya berdasarkan jumlah air yang tersedia.
“Karena pada akhir abad ini, hampir dua pertiga populasi dunia harus menghadapi terlalu sedikit air atau air dengan kualitas buruk,” ujarnya.
Dampaknya juga tidak akan sama di setiap wilayah. Air yang terlalu hangat untuk mendinginkan pembangkit listrik, misalnya, masih mungkin digunakan untuk kebutuhan tertentu seperti rumah tangga atau irigasi.
Karena itu, pengelolaan dan pembagian kembali sumber daya air dapat menjadi salah satu cara mengurangi kesenjangan di sektor tertentu.
Peneliti menegaskan terdapat sejumlah keterbatasan dalam analisis tersebut.
Model hanya menggunakan satu skenario sosial dan iklim masa depan. Skenario berbeda dapat menghasilkan proyeksi yang berbeda pula.
Penelitian juga memberikan prioritas yang sama kepada seluruh sektor, sementara kebijakan di dunia nyata biasanya memberikan prioritas lebih besar kepada kebutuhan rumah tangga atau pertanian.
Selain itu, model mengasumsikan air tanah memenuhi standar kualitas. Faktor seperti kebutuhan air untuk ekosistem, logam berat, PFAS, pestisida, serta perkembangan fasilitas pengolahan air dan desalinasi belum sepenuhnya diperhitungkan.
Karena itu, angka proyeksi tidak dapat dianggap sebagai jumlah pasti penduduk yang akan mengalami krisis air pada 2100.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi menghadapi krisis air perlu melampaui upaya menambah pasokan atau mengurangi konsumsi.
Pencemaran air, kenaikan suhu, perubahan kebutuhan industri, pertumbuhan penduduk, dan persaingan antarsektor perlu diperhitungkan secara bersamaan.
Bagi pembuat kebijakan, tantangannya bukan sekadar memastikan air tetap tersedia, tetapi memastikan air tersebut cukup bersih dan sesuai untuk digunakan.
Peneliti juga menilai perubahan proses produksi dan percepatan transformasi sektor energi perlu dipertimbangkan, terutama menghadapi perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air.
Dengan demikian, masa depan krisis air tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak air yang tersisa, tetapi juga oleh seberapa layak air tersebut untuk digunakan.(*)
Sumber Earth
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB