Pengamat Komunikasi Politik dari Swarna Dwipa Institute (SDI) Frans Immanuel Saragih. Foto: jurnas
JAKARTA, Jurnas.com - Amerika dan Iran telah menandatangani kesepakatan perdamaian, beberapa hari yang lalu, dan akan terus berunding dalam periode 60 hari ke depan untuk mencapai perjanjian damai antara Amerika dan Iran, dimana di dalamnya terdapat poin-poin penting yang harus disepakati.
Meakipun demikian, dalam dua hari terakhir ini dunia kembali dikejutkan oleh timbulnya serangan di antara kedua belah pihak yang membuat capaian menuju perdamaian tersebut menjadi sebuah kekhawatiran baru dan tidak terwujud.
Pengamat Komunikasi Politik Swarna Dwipa Institute (SDI) Frans Immanuel Saragih, Senin (29/6/2026), menyampaikan bahwa apa yang terjadi semua ini akibat rapuhnya niat masing masing pihak dalam MOU yang sudah ditanda tangani.
"Kalau kita menilik ulang bahwa perang ini melibatkan tiga negara, yaitu Amerika dan Israel yang menyerang Iran. Tetapi MOU itu hanya melibatkan Amerika dan Iran. Sedangkan Israel tidak ada di dalamnya. Jadi situasi panas ini kemungkinan besar akan bisa berlanjut," kata Frans.
Menurut Frans, Israel memiliki agenda tersendiri dalam perang yang berbeda dengan kepentingan Amerika.
"Jadi agak sulit tercapai perjanjian perdamaian apabila Israel tidak ada di dalam perjanjian tersebut," ungkap Frans.
Ia merasa bahwa ketiga negara yang berperang harus bisa duduk dalam satu meja perundingan damai dengan di fasilitasi pihak netral.
"Bisa negara ataupun negara tambahan sebagai fasilitator selain Pakistan, Oman, dan Qatar di dalam perundingan, misalnya Indonesia," pungkas Frans.
Senin, 29/06/2026 10:11 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Senin, 29/06/2026 11:38 WIB