Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Jurnalis investigasi Amerika Serikat peraih Hadiah Pulitzer, Seymour Hersh, mengungkap laporan yang menyebut Presiden AS Donald Trump sempat membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran di tengah memanasnya konflik antara kedua negara.
Dalam laporannya yang dipublikasikan melalui platform Substack pada Rabu (11/6), Hersh mengutip sejumlah sumber yang menyatakan bahwa pembahasan tersebut dilakukan bersama beberapa pejabat senior pemerintahan AS.
Menurut Hersh, diskusi itu muncul sebagai bagian dari upaya mencari jalan tercepat untuk mengakhiri konflik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut menyebut pembicaraan mengenai opsi militer ekstrem itu masih menjadi topik yang dibahas oleh sejumlah pejabat tinggi pemerintahan bersama seorang presiden yang disebut tengah mengalami frustrasi akibat situasi yang berkembang.
"Diskusi semacam itu masih berlangsung antara beberapa anggota senior pemerintahan dan presiden yang tengah frustrasi," tulis Hersh dalam laporannya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Situasi yang semakin memburuk kemudian mendorong kedua negara untuk menyepakati gencatan senjata pada 7 April. Meski demikian, upaya diplomatik yang dilakukan setelahnya belum membuahkan hasil signifikan.
Pertemuan lanjutan yang digelar di Islamabad dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan baru yang mampu meredakan ketegangan secara permanen.
Hingga kini, proses negosiasi antara Washington dan Teheran disebut masih berlangsung. Sejumlah sumber menyebut kedua pihak tengah berupaya menyusun kerangka nota kesepahaman sebagai dasar bagi kemungkinan kesepakatan yang lebih luas di masa mendatang.
Namun di tengah proses diplomasi tersebut, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Serangan terbatas dan insiden militer sporadis masih dilaporkan terjadi, menandakan rapuhnya situasi keamanan di kawasan.
Laporan Hersh pun kembali memicu perhatian internasional karena menyangkut kemungkinan penggunaan senjata nuklir dalam konflik yang melibatkan dua kekuatan besar di Timur Tengah.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih yang mengonfirmasi maupun membantah isi laporan tersebut. (ant)
Kamis, 11/06/2026 15:35 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB