https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kurang dari Sebulan, Korban Tewas Wabah Ebola di Kongo Tembus 100 Orang

Muhammad Habib Saifullah | Selasa, 09/06/2026 23:01 WIB



Sedikitnya 100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah Ebola dalam waktu kurang dari sebulan sejak pemerintah RD Kongo Umumkan darurat nasional Ilustrasi kasus ebola di Kongo (Foto: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Sedikitnya 100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah Ebola dalam waktu kurang dari sebulan sejak pemerintah mengumumkan status darurat di wilayah timur Republik Demokratik Kongo.

Upaya penanggulangan krisis kesehatan ini berjalan lambat akibat maraknya aksi penolakan warga, skeptisisme lokal, serta konflik bersenjata di sejumlah titik panas penularan.

Berdasarkan laporan situasi terbaru yang dirilis pada Senin malam, dari 550 kasus yang terkonfirmasi, tercatat ada 101 kematian dan 19 pasien dinyatakan sembuh.

Baca juga :
Ebola Meluas Cepat di Kongo, Menyebar hingga Uganda

Pusat wabah terkonsentrasi di Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo, yang menyumbang lebih dari 90 persen total kasus. Selain itu, penularan juga telah terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan, bahkan kini telah melintasi perbatasan hingga ke Uganda.

Jumlah kasus riil di lapangan diyakini jauh lebih tinggi karena konfirmasi wabah baru diterbitkan beberapa minggu setelah virus menyebar luas. Penanganan juga menemui jalan buntu karena karakteristik virus yang berbeda dari biasanya.

Baca juga :
Krisis Kesehatan di Gaza Kian Parah, Ribuan Pasien Terancam

Otoritas setempat menjelaskan bahwa wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo yang tergolong langka. Varian ini sama sekali belum memiliki vaksin atau metode pengobatan yang disetujui secara medis, berbeda dengan "virus Zaire" (nama lain virus Ebola) yang menjadi dalang dari sebagian besar 16 gelombang wabah di Kongo sebelumnya.

Adapun lonjakan tajam jumlah kasus dalam beberapa hari terakhir sebagian disebabkan oleh peningkatan kapasitas diagnostik di lapangan, yang memungkinkan tim medis menguji tumpukan sampel yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Baca juga :
WHO Desak Negara Cabut Larangan Pembatasan Perjalanan Akibat WHO

Di sisi lain, para tenaga medis yang bekerja di garda terdepan dengan upah minim dan waktu istirahat yang sangat terbatas, berulang kali menjadi sasaran amuk warga setempat.

Mereka juga tidak dapat menjangkau beberapa komunitas karena terjebak di tengah konflik internal yang melibatkan kelompok-kelompok pemberontak bersenjata.

Kawasan timur Kongo sendiri telah bertahun-tahun didera aksi kekerasan oleh puluhan kelompok milisi, di mana beberapa di antaranya memiliki jaringan luar negeri hingga terafiliasi dengan kelompok ekstremis Daesh (ISIS).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa konflik bersenjata ini telah membatasi akses tim medis, mengganggu aktivitas pengawasan wabah, serta meningkatkan risiko penularan yang tidak terdeteksi di masyarakat.

"Insiden-insiden kekerasan ini menegaskan betapa beratnya tantangan di lapangan, sekaligus menunjukkan betapa krusialnya kerja sama yang erat dengan para pemimpin lokal serta komunitas setempat," tulis pernyataan resmi WHO.

Sumber: Arabnews

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Virus Ebola Republik Demokratik Kongo Krisis Kesehatan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777