https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Radiator Diisi Air Biasa, Ini Risiko Fatal yang Mengintai Mesin

Mutiul Alim | Rabu, 03/06/2026 12:15 WIB



Endapan tebal dari air keran akan menyumbat pipa-pipa kapiler radiator yang sangat sempit, membuat sirkulasi macet, dan menjadi faktor utama penyebab overheat Ilustrasi pemasangan radiator mobil (Foto: ACKO Drive)

Jakarta, Jurnas.com - Menjaga suhu kerja mesin tetap stabil adalah kunci utama untuk memastikan kendaraan roda dua maupun roda empat Anda tetap berada dalam performa optimal.

Salah satu komponen paling krusial dalam sistem pendinginan ini adalah radiator kendaraan, yang bertugas melepas panas mesin ke udara bebas agar tidak terjadi kerusakan internal.

Namun, sebuah kebiasaan keliru yang masih sering dilakukan oleh banyak pemilik kendaraan adalah mengisi atau menambah cairan penampung panas tersebut menggunakan air biasa, seperti air keran atau air mineral kemasan.

Kebiasaan ini sering kali dianggap sebagai solusi praktis, cepat, dan murah untuk menghemat pengeluaran perawatan berkala pemilik kendaraan karena banyak yang berasumsi bahwa fungsi utama cairan di dalam sistem pendingin hanyalah sebagai media penghantar suhu semata.

Padahal, dari sudut pandang teknis, tindakan mengganti cairan khusus dengan air murni dalam jangka panjang merupakan kekeliruan besar yang secara perlahan dapat merusak komponen inti di dalam ruang mesin.

Sistem pendingin modern pada dasarnya telah dirancang secara spesifik untuk bekerja menggunakan formula kimia khusus, bukan air mentah yang mengandung berbagai unsur mineral tak terkendali.

Mengabaikan penggunaan jenis air coolant yang direkomendasikan secara resmi oleh pihak pabrikan lambat laun akan memicu serangkaian kegagalan mekanis yang sangat merugikan bagi pemiliknya.

Hal ini terjadi karena air biasa mengandung kadar oksigen dan mineral yang sangat tinggi secara alami, sehingga ketika cairan ini bersirikulasi di dalam mesin dalam kondisi panas ekstrem, reaksi korosi dan karat pada komponen internal berbahan besi atau aluminium tidak akan dapat dihindarkan.

Karat yang mulai terbentuk di dalam jalur air pendingin tersebut lama-kelamaan akan mengelupas menjadi serpihan kotoran padat, yang kemudian diperparah oleh munculnya endapan kerak kapur akibat kalsium air mineral yang mengkristal setelah dipanaskan berulang kali.

Endapan tebal ini akan menyumbat pipa-pipa kapiler radiator yang sangat sempit, membuat sirkulasi macet, dan menjadi faktor utama penyebab overheat karena air murni mumpuni menguap jauh sebelum menyerap panas mesin secara maksimal akibat titik didihnya yang rendah.

Tidak hanya itu, sifat air biasa yang kesat tanpa kandungan pelumas juga akan mengikis kekuatan komponen karet atau seal pada pompa air hingga menjadi getas dan memicu kebocoran sirkulasi yang parah.

Oleh karena itu, pengisian radiator menggunakan air biasa sebenarnya hanya sangat ditoleransi dalam situasi darurat di tengah perjalanan, misalnya ketika volume cairan habis di area terpencil dan mesin sudah menunjukkan gejala mati mendadak.

Namun, hal itu harus segera diikuti dengan tindakan pengurasan total atau flushing di bengkel terdekat untuk menggantinya kembali dengan cairan pendingin yang sesuai spesifikasi. Langkah pencegahan yang disiplin ini tentu jauh lebih bijak dan murah, dibandingkan harus menanggung risiko turun mesin akibat kerusakan silinder yang menuntut biaya perbaikan hingga jutaan rupiah.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Radiator Mobil Air Coolant Radiator Overheat

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777