Ilustrasi - Hari Arafah (Foto: Wahdah Islamiyah)
Jakarta, Jurnas.com - Hari Arafah menjadi salah satu momentum paling penting dalam Islam, terutama menjelang Hari Raya Iduladha. Bukan sekadar hari wukuf bagi jamaah haji di Padang Arafah, hari ini juga menyimpan sejarah panjang, makna spiritual mendalam, dan asal-usul penamaan yang menarik untuk ditelusuri.
Dalam tradisi Islam, tanggal 9 Dzulhijjah disebut sebagai Hari Arafah. Para ulama tafsir dan ahli bahasa Arab menjelaskan bahwa kata “Arafah” memiliki sejumlah makna yang berkaitan erat dengan pengetahuan, pengakuan, pertemuan, hingga ampunan Allah SWT. Berikut ulasannya yang dikutip dari laman MUI.
Sebagian ulama menyebut kata Arafah berasal dari kata i’tiraf atau ma’rifah yang berarti pengetahuan dan pengakuan. Pada hari itu, umat Islam dianggap semakin mengenal dan mengakui kebesaran Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah.
Pendapat lain menyebut Arafah berasal dari kata arafa yang bermakna harum atau wangi. Makna ini dikaitkan dengan kondisi spiritual jamaah haji yang bertobat dan membersihkan diri dari dosa ketika berada di Padang Arafah.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 6)
Ulama tafsir terkemuka Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa orang-orang yang bertobat di Arafah sejatinya telah dibersihkan dari kotoran dosa sehingga jiwa mereka kembali harum di sisi Allah SWT.
Salah satu riwayat paling populer terkait penamaan Arafah adalah kisah pertemuan kembali Nabi Adam dan Hawa setelah keduanya diturunkan dari surga ke bumi.
Menurut sejumlah penafsiran ulama, mereka dipertemukan kembali di Padang Arafah setelah sekian lama terpisah. Dari sinilah muncul istilah “arafa” yang berarti saling mengetahui atau mengenali.
Kisah ini membuat Arafah tidak hanya dimaknai sebagai tempat geografis, tetapi juga simbol pertemuan, pengampunan, dan harapan baru bagi umat manusia.
Penamaan Hari Arafah juga dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim yang mendapat mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.
Menurut penjelasan ulama, pada tanggal 9 Dzulhijjah Nabi Ibrahim benar-benar memahami dan meyakini bahwa mimpi tersebut adalah wahyu dari Allah SWT. Karena itulah hari tersebut disebut Arafah, yakni momentum ketika kebenaran menjadi jelas dan diketahui secara pasti.
Riwayat lain juga menyebut bahwa Malaikat Jibril mengajarkan tata cara ibadah haji kepada Nabi Ibrahim di Arafah. Saat pelajaran selesai, Jibril bertanya, “Apakah engkau sudah mengetahui?” dan Nabi Ibrahim menjawab bahwa dirinya telah memahami seluruh tuntunan tersebut.
Dalam kitab Tafsîr Mafâtîhul Ghaib, Imam Fakhruddin Ar-Razi memaparkan delapan alasan mengapa hari itu dinamakan Arafah. Pertama, pertemuan kembali Nabi Adam dan Hawa di Padang Arafah. Kedua, dialog Malaikat Jibril dengan Nabi Adam tentang manasik haji.
Ketiga, momentum Nabi Ibrahim memahami kebenaran mimpinya. Keempat, pengajaran manasik haji oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim. Kelima, pertemuan kembali Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail dan Sayyidah Hajar. Keenam, simbol keyakinan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah.
Ketujuh, penamaan oleh jamaah haji yang berhenti di wilayah Arafah. Kedelapan, hari ketika Allah memberikan kabar ampunan dan rahmat kepada jamaah haji.
Bagi umat Islam, Hari Arafah bukan hanya bagian dari rangkaian ibadah haji. Hari ini juga dikenal sebagai momentum terbaik untuk berdoa, bertobat, dan memperbanyak ibadah.
Wukuf di Padang Arafah menjadi rukun utama haji, sementara bagi umat Islam yang tidak berhaji dianjurkan menjalankan puasa Arafah.
Makna terbesar Hari Arafah terletak pada pesan spiritualnya: manusia diajak kembali mengenal Allah, mengenali diri sendiri, dan berharap memperoleh ampunan serta rahmat-Nya. (*)
Wallahu`alam
Selasa, 19/05/2026 13:31 WIB