Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (Foto: Reuters)
Teheran, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa krisis kepercayaan yang mendalam menjadi rintangan terbesar dalam negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS).
Berbicara kepada awak media di New Delhi, India, pada Jumat lalu, Araghchi menekankan bahwa Teheran sangat terbuka terhadap bantuan diplomatik dari negara lain, khususnya dari China, guna meredakan ketegangan geopolitik yang kian meruncing.
Pihak Iran mengaku masih meragukan keseriusan Washington dalam mencapai perdamaian. Menurut Araghchi, proses negosiasi yang saat ini dimediasi oleh Pakistan hanya akan bergerak maju jika pemerintah AS siap menyepakati perjanjian yang adil dan seimbang bagi kedua belah pihak.
"Kami meragukan keseriusan mereka (AS). Perundingan akan maju jika Washington siap untuk kesepakatan yang adil dan seimbang," ujar Abbas Araghchi, dikutip dari Associated Press pada Minggu (17/5).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan menolak proposal resmi terbaru dari Iran dan menyebutnya sampah. Meskipun Teheran dikabarkan telah memasukkan beberapa poin konsesi nuklir, Trump bersikeras menuntut pembersihan total pasokan uranium yang diperkaya tinggi dari Iran, guna memastikan negara tersebut tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Di sisi lain, Iran tetap berkomitmen bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.
Akibat mandeknya komunikasi ini, stabilitas Timur Tengah berada di ambang perang terbuka yang lebih besar, memperpanjang krisis energi global. Saat ini, kondisi masih tertahan pada posisi saling kunci. Iran tetap mengendalikan Selat Hormuz, sementara militer AS menerapkan blokade ketat di seluruh pelabuhan Iran.
Sementara itu, Iran menilai China memiliki kapasitas diplomatik yang mumpuni untuk menengahi konflik ini, merefleksikan keberhasilan Beijing saat memfasilitasi pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi beberapa tahun lalu.
Walaupun Trump mengklaim bahwa Presiden Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam pertemuan mereka di Beijing pekan ini, pemerintah China secara publik masih tampak enggan untuk terlibat terlalu dalam pada tuntutan AS.
Selain opsi diplomatik China, isu kepemilikan cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi tetap menjadi poin krusial yang sulit ditembus. Terkait hal ini, Rusia sebenarnya telah menawarkan diri untuk menampung seluruh cadangan uranium tersebut jika Iran bersedia menyerahkannya.
Araghchi menjelaskan bahwa opsi Rusia tersebut saat ini belum didiskusikan secara aktif, namun tidak menutup kemungkinan untuk ditinjau kembali jika proses diplomasi telah mencapai tahapan yang tepat.
Di tengah kebuntuan regional ini, harapan muncul dari lini negosiasi terpisah di Washington. Para pejabat AS mengonfirmasi bahwa pihak Israel dan Lebanon telah sepakat untuk memperpanjang masa gencatan senjata mereka yang rapuh hingga awal Juni mendatang, memberikan ruang bernapas bagi upaya diplomasi di sektor perbatasan utara Israel.
Jum'at, 15/05/2026 05:41 WIB
Minggu, 17/05/2026 13:05 WIB