https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Jejak Sejarah Ketupat, Hidangan yang Menjadi Ikon Lebaran

Muhammad Habib Saifullah | Kamis, 19/03/2026 05:05 WIB



Dalam bahasa Jawa, kupat merupakan kependekan dari frasa ngaku lepat yang secara harfiah berarti mengakui kesalahan. Ketupat (Wikipedia)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap kali Idulfitri tiba, keberadaan ketupat di meja makan seolah menjadi kewajiban bagi masyarakat Indonesia.

Hidangan beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda ini telah menjadi ikon nasional hari raya.

Namun, di balik popularitasnya sebagai pendamping opor dan rendang, ketupat menyimpan narasi sejarah dan filosofi yang mendalam tentang pengakuan kesalahan dan permohonan maaf.

Baca juga :
Filosofi Ketupat, Makanan yang Jadi Primadona Saat Lebaran

Secara historis, tradisi ketupat di Nusantara erat kaitannya dengan strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15.

Salah satu anggota Wali Songo tersebut menggunakan pendekatan akulturasi budaya untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga memperkenalkan dua tradisi utama pasca-puasa Ramadan, yakni Bakda Lebaran yang dirayakan pada 1 Syawal, dan Bakda Kupat yang dirayakan satu minggu setelahnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, dalam bahasa Jawa, kupat merupakan kependekan dari frasa ngaku lepat yang secara harfiah berarti mengakui kesalahan.

Rumitnya anyaman janur pada ketupat juga memiliki interpretasi visual tersendiri. Pilinan daun kelapa yang saling tumpang tindih digambarkan sebagai kerumitan dosa dan kesalahan manusia.

Namun, ketika ketupat dibelah, akan terlihat bagian dalam berupa nasi putih yang padat dan bersih. Kontras ini melambangkan kesucian hati dan kembalinya manusia ke fitrah setelah melewati bulan suci Ramadan serta saling memaafkan.

Selain makna ngaku lepat, ada pula penafsiran lain yaitu laku papat atau empat tindakan yang menjadi inti dari perayaan Idulfitri.

Keempat tindakan tersebut adalah lebar (pintu ampunan terbuka lebar), lebur (dosa-dosa melebur), luber (limpahan rezeki dan amal), serta labur (bersihnya hati layaknya kapur).

Keempat nilai ini menyatu dalam satu simbol anyaman yang kini menyebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara.

Penggunaan janur kuning sebagai pembungkus pun dipilih karena maknanya yang sakral. Janur, yang dalam istilah Jawa merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati, melambangkan harapan agar setiap individu mendapatkan petunjuk ilahi.

Warna kuning pada janur juga sering diasosiasikan dengan kebahagiaan dan kemenangan setelah menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Sejarah Ketupat Ngaku Lepat Hidang Lebaran

Terkini | Rabu, 20/05/2026 11:20 WIB

News

KPK Sita 4 Mobil dari Rumah Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko

Humanika

Sambut Fase Armuzna, Jemaah Dianjurkan Baca Shalawat 1.000 Kali per Hari

News

Prabowo Sampaikan Langsung KEM-PPKF, Misbhakun: Jangan Dikaitkan Rupiah

News

DPR Ingin Pengawasan Haji Lintas Sektor Lebih Maksimal

News

Puan Buka Paripurna Bahas Kebijakan Fiskal 2027, Presiden dan Wapres Hadir

News

Misbakhun Sebut KEM-PPKF Disampaikan Prabowo jadi Tradisi Baru

Humanika

4 Pertanyaan di Yaumul Hisab yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

News

Legislator PKB Sarankan Prabowo Tempuh Jalur BoP untuk Bebaskan Jurnalis RI

News

KPK Limpahkan Dua Perkara Korupsi Sudewo ke Penuntutan

News

Jelang Tahun Ajaran Baru, Mensos Minta Tata Kelola Sekolah Rakyat Diperkuat

Gaya Hidup

Ini Sejarah dan Makna dari Peringatan Hari Lebah Sedunia Setiap 20 Mei

News

Misbakhun Soroti ADK Ex Officio LPS: Jangan Sekadar Datang, Duduk, Diam

News

Baleg DPR Kaji Tumpang Tindih Penentuan Kerugian Negara di Kasus Korupsi

News

Misbakhun Tegaskan Penyesuaian Tugas DK LPS Wajib Dikonsultasikan ke DPR

News

Wamensos Pastikan Renovasi Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat Mulai Jalan

Humanika

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Setiap 20 Mei, Ini Sejarahnya

News

Menhaj Bertolak ke Saudi Pimpin Amirulhaj, Pastikan Layanan Jemaah Terkawal

Gaya Hidup

Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Keempat di Dunia

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777