Teknis meniriskan oli dari tabung filter (Foto: Jimmy Nilson Masth/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Oli mesin memiliki fungsi vital sebagai pelumas, pendingin, dan pelindung komponen mesin dari gesekan. Karena itu, pelumas satu ini penting diperhatikan agar selalu encer.
Sayangnya, banyak pemilik mobil yang menunda ganti oli dengan alasan sibuk atau merasa mesin masih terasa normal. Padahal, kerusakan akibat oli telat diganti sering kali tidak langsung terasa, tetapi akan memicu perbaikan berbiaya besar.
Pabrikan otomotif serta pakar mesin selalu menekankan pentingnya mengganti oli secara berkala, biasanya setiap 5.000–10.000 km tergantung jenis oli dan pemakaian. Oli yang sudah kotor dan encer akan kehilangan kemampuannya, sehingga mesin bekerja lebih berat.
Oli membantu menjaga suhu mesin tetap stabil. Bila oli sudah menurun kualitasnya, gesekan meningkat dan suhu naik drastis.
Piston, noken as, hingga dinding silinder bisa mengalami keausan lebih cepat. Biaya penggantian komponen ini tidak murah.
Oli buruk menyebabkan mesin bekerja lebih berat, sehingga konsumsi bahan bakar jadi lebih boros.
Sludge adalah kerak hitam yang dapat menyumbat saluran oli. Jika dibiarkan, aliran pelumasan bisa terputus.
Kerusakan paling fatal adalah harus melakukan overhaul atau turun mesin karena komponen rusak parah.
Turbo sangat sensitif terhadap oli kotor. Bila rusak, biaya perbaikannya bisa mencapai belasan juta rupiah.
Pabrikan bisa menolak klaim garansi jika pengguna tidak mengikuti aturan servis berkala, termasuk ganti oli.
Setiap kerusakan tersebut dapat dicegah dengan disiplin mengganti oli sesuai interval yang dianjurkan. Mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk oli jelas lebih hemat dibanding puluhan juta akibat mesin rusak.
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB