Thrifting masih menjadi tren di kalangan anak muda (Foto: Becca Mchaffie/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Tren belanja pakaian bekas alias thrifting tampaknya belum akan pudar. Meski gempuran produk fast fashion terus datang, toko-toko thrift masih ramai dikunjungi anak muda yang mencari gaya unik dengan harga miring.
Lebih dari sekadar hemat, thrifting kini menjadi simbol gaya hidup berkelanjutan dan ekspresi diri. Di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, kegiatan berburu baju bekas justru dianggap keren dan penuh karakter.
Dengan modal Rp50 ribu, pemburu thrift bisa membawa pulang jaket bermerek yang jika baru bisa mencapai jutaan rupiah.
Thrifting memberi sensasi berburu barang langka. Banyak penggemar yang merasa puas menemukan pakaian vintage atau keluaran lama dari brand ternama.
Thrifting dianggap lebih ramah lingkungan, karena memperpanjang usia pakaian dan mengurangi limbah tekstil. Konsep ini sejalan dengan tren sustainable fashion yang kini digemari generasi muda.
Kegiatan ini bisa jadi peluang bisnis. Banyak anak muda menjual kembali temuan mereka secara daring dengan harga lebih tinggi.
Setiap orang bisa menciptakan kombinasi busana yang berbeda tanpa takut seragam dengan orang lain.
Thrifting adalah kegiatan sosial yang menyenangkan. Banyak komunitas pecinta thrift mengadakan bazar atau berbagi inspirasi gaya.
Thrifting mencerminkan pergeseran nilai konsumsi, dari membeli karena tren menjadi membeli karena makna.
Selama masih ada semangat bereksperimen dan kesadaran lingkungan, thrifting akan terus menjadi primadona gaya hidup muda urban.
Minggu, 03/05/2026 09:27 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB
Minggu, 03/05/2026 09:09 WIB