https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kementan Gaungkan Smart Farming, Pertanian Masa Depan Indonesia

Rizki Ramadhan | Jum'at, 10/03/2023 11:51 WIB



Saat ini para generasi muda telah masuk di era teknologi digital, sehingga perlu beradaptasi dalam memanfaatkan peluang dan memenangkan kompetisi. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), Himpunan Ilmu Tanah Indoensia (HIT), dan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).

 

JAKARTA, Jurnas.com - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggaungkan pentingnya penerapan Smart Farming untuk meningkatkan produktivitas.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, saat ini para generasi muda telah masuk di era teknologi digital, sehingga perlu beradaptasi dalam memanfaatkan peluang dan memenangkan kompetisi.

Baca juga :
Embung dan Smart Farming Dinilai Penting untuk Swasembada Pangan

"Pertanian saat ini tidak sama lagi dengan pertanian sebelumnya. Kita masuk pertanian internet of thinking, menggunakan artificial intelegent, satelit sudah main. Pertanian itu keren," ujar Mentan Syahrul.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi menyampaikan, Smart Farming sudah terbukti mampu menggenjot produktivitas pertanian dan juga sudah terbukti mampu meningkatkan kualitas dan kontinuitas produk pertanian.

Baca juga :
DPR Minta Jepang Ajarkan Smart Farming ke Petani Muda Indonesia

"Manfaat smart farming ini. Oleh karena itu, saya yakin bahwa dengan smart farming produktivitas bisa kita genjot, kualitas bisa kita perbaiki, dan kontinuitas produk bisa kita jamin," kata Dedi.

Menurut Dedi di dalam Smart Farming ada pemanfaatan produk biosains, bioteknologi, biofertilizer, biopestisida. Sebagai contoh pemanfaatan high yiedling variety (varietas yang berpotensi hasil tinggi).

Baca juga :
Kembangkan Smart Farming, Kementan Gandeng EPIS Korea

"Ingat, pertanian itu dimulai dari benih dan dari varietas yang berpotensi hasil tinggi. Kalau bibit dan benihnya asal-asalan apalagi hoaks, maka pasti hasilnya juga hoaks. Kalau kalian mau bertani, maka pastikan dulu benihnya berkualitas dan berpotensi produktivitas tinggi," kata Dedi.

Di dalam smart farming juga ada pemanfaatan alat mesin pertanian. Di samping itu, ada pemanfaatn Internet of Things, Big data, Artificial intelligence (AI), Robot construction, dan Sensor.

"Kita sekarang sudah memasuki era 4.0, dimana segala sesuatunya otomatis, segalanya sesuatunya menggunakan internet dari hulu hingga hilir. Dari hulu memilih benih dan bibit yang berkualitas cukup menggunakan robot. Berbicara mengenai ukuran benih, robot bisa menyeleksi benih yang bagus," kata Dedi.

"Bahkan sekarang irigasi juga bisa dihubungkan dengan Iot. Putra-putri Indonesia sekarang bahkan sudah mampu membuat Smart Irrigation System untuk usaha tani cabai dan sayur-sayuran lainya," sambungnya.

Dalam kegiatan Bertani on Cloud Volume 219 yang mengangkat tema "Smart Farming untuk Meningkat Produktivitas Pertanian", Sekretaris Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), Ahmad Junaedi mengatakan, Smart Farming akan menjadi pertanian masa depan Indonesia.

"Smart Farming akan menjadi pertanian masa depan kita," kata dia dalam acara talkshow yang dihadiri perwakilan dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), dan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).

Ahmad mengatakan, Smart Farming mampu menghasilkan produktivitas dan kualitas yang sangat tinggi. Di samping itu, kontinuitas bisa terjamin, sehingga bisa bersaing dengan produk-produk dari luar negeri.

"Biasanya kalau teknologi pertanian konvensional yang biasa saja, ya, akan banyak pembatas. Produktivitas tidak bisa terlalu tinggi, kualitas juga akan bermasalah, kontinuitas fluktuatif. Dengan Smart Farming, kita bisa mengatasi persoalan pasokan," tutur dia.

Pembicara lainnya dari HITI, Ai Dariah mengatakan, implementasi Smart Farming harus mengedepankan sikap bijaksana dalam menjaga kerberlanjutan pertanian di Indonesia.

"Karena kita mempunyai inovasi dan teknologi yang sangat mutaakhir, pemupukan yang sangat bisa memicu produktivitas, tetapi kalau tidak tidak dimplementasikan bijaksana itu tidak membuat pertanian berkelanjutakan," kata dia.

Oleh karena itu, Ai Dariah menekankan bahwa salah satu yang selalu diikutsertakan dalam mengimplementasikan Smart Farming adalah sikap bijaksana terhadap lahan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Dedi Nursyami Smart Farming Pertanian Masa Depan Indonesia

Terpopuler

Jum'at, 03/07/2026 03:03 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Australia vs Mesir

Kamis, 02/07/2026 07:30 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Swiss vs Aljazair

Humanika

Minggu, 05/07/2026 23:59 WIB

Apakah Sholat Safar Harus di Masjid?

Minggu, 05/07/2026 23:30 WIB

Lima Doa Setelah Melaksanakan Sholat Safar

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777