Jakarta - Bom berdaya ledak rendah yang terjadi di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, akan berdampak buruk daripada trauma akibat bencana alam.
"Karena itu, perlu penanganan yang komprehensif terhadap korban, khususnya anak-anak. Trauma, apa pun sumbernya niscaya menyakitkan," kata Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia Reza Indragiri Amriel.Sebagaimana anak yang mengandalkan orang tua sebagai pelindung, Reza menilai keluarga korban ledakan bom di Samarinda juga mengharapkan kehadiran otoritas terkait sebagai pemberi jaminan keamanan. Semakin cepat dan efektif penanganan oleh otoritas berwenang dan langkah-langkah penanganan disaksikan keluarga korban, semakin solid pondasi bagi pemulihan kondisi anak-anak yang menderita trauma.Baca juga :
Daftar Top 10 Netflix Pekan Ini, Avatar: The Last Airbender dan Mea Culpa di Posisi Teratas
Daftar Top 10 Netflix Pekan Ini, Avatar: The Last Airbender dan Mea Culpa di Posisi Teratas
Ikuti Update jurnas.com di
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD : Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bom Samarinda Trauma Anak LPA


























