Rabu, 14/10/2026 10:19 WIB

7 Juta Orang Meninggal akibat Polusi Udara, Asia Tenggara Paling Terdampak





Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan polusi udara sebagai salah satu risiko lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia

Ilustrasi polusi udara (Foto: Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Polusi udara bukan sekadar masalah kabut asap dan langit yang terlihat kusam. Laman IQAir menyebut bahwa paparan udara tercemar berkaitan dengan hampir 7 juta kematian dini di seluruh dunia setiap tahun, dengan mayoritas beban kematian ditanggung negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan polusi udara sebagai salah satu risiko lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia. Ancaman ini berasal dari luar maupun dalam ruangan, mulai dari asap kendaraan dan aktivitas industri hingga penggunaan kayu, batu bara, serta biomassa untuk memasak.

Salah satu pencemar yang paling diwaspadai adalah PM2.5, yakni partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan sebagian dapat mencapai aliran darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit serius.

Beban polusi udara tidak tersebar secara merata. Berdasarkan data yang dikutip dalam bahan sumber, sekitar 89 persen kematian terkait polusi udara terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat menurut pembagian wilayah WHO.

Sejumlah negara di Asia dan sekitarnya juga menghadapi tingkat pencemaran udara yang tinggi, termasuk Indonesia, Bangladesh, India, Laos, Mongolia, Myanmar, Nepal, Pakistan, dan Vietnam.

Sumber pencemarnya beragam, bergantung pada kondisi setiap negara dan wilayah. Emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, kegiatan industri, pembakaran lahan pertanian, serta kebakaran hutan menjadi penyumbang polusi udara luar ruangan.

Sementara itu, pencemaran di dalam rumah dapat berasal dari penggunaan bahan bakar padat untuk memasak dan pemanas. Asap dari pembakaran kayu, batu bara, atau biomassa dapat menumpuk ketika ventilasi tidak memadai, sehingga penghuni rumah terpapar polutan berulang kali.

Menurut data WHO yang dicantumkan dalam bahan sumber, sekitar separuh kematian akibat polusi udara pada 2020 berkaitan dengan pencemaran udara rumah tangga. Perempuan dan anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak, dengan lebih dari 237.000 kematian pada anak berusia di bawah lima tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman polusi tidak hanya berada di jalan raya atau kawasan industri. Udara di dalam rumah juga dapat menjadi sumber paparan berbahaya ketika bahan bakar dan teknologi memasak yang digunakan menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Dampak mematikan polusi udara telah tercatat sejak puluhan tahun lalu. Salah satu peristiwa paling terkenal adalah Kabut Asap Besar London pada Desember 1952.

Saat itu, asap dari pembakaran batu bara terperangkap di atas kota akibat kondisi atmosfer yang menghambat penyebarannya. Kabut tebal bercampur polutan menyelimuti London selama beberapa hari dan menyebabkan krisis kesehatan serius.

Peristiwa tersebut dikaitkan dengan lebih dari 12.000 kematian dini. Penelitian juga menemukan peningkatan gangguan pernapasan, termasuk kasus asma, setelah paparan polusi berat tersebut.

Tragedi London memperlihatkan bagaimana kombinasi emisi tinggi dan kondisi cuaca tertentu dapat mengubah pencemaran udara menjadi bencana kesehatan masyarakat. Peristiwa itu turut memperkuat perhatian terhadap pengendalian emisi dan perlindungan kualitas udara.

Ancaman serupa tetap relevan hingga sekarang, meskipun sumber polusi telah berkembang. Selain pembakaran bahan bakar, masyarakat kini menghadapi emisi kendaraan, aktivitas industri, pembangkit listrik, serta asap kebakaran hutan dan lahan.

Bahaya PM2.5 tidak terbatas pada iritasi mata atau batuk. Paparan jangka panjang terhadap partikel halus dikaitkan dengan berbagai penyakit yang dapat meningkatkan risiko kematian dini.

Penyakit jantung. Polusi udara dapat memicu peradangan dan memengaruhi fungsi pembuluh darah. Paparan PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung iskemik, yaitu kondisi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang.

Kanker paru-paru. Polusi udara luar ruangan dan partikel di dalamnya telah diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Paparan polutan tertentu dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.

Asma. Udara tercemar dapat memicu serangan asma dan memperburuk gejala pada orang yang telah memiliki penyakit tersebut. Anak-anak dan orang dengan saluran pernapasan sensitif perlu mendapat perhatian khusus ketika konsentrasi polusi meningkat.

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Paparan polusi udara turut berkontribusi terhadap PPOK, kelompok penyakit paru kronis yang mencakup emfisema dan bronkitis kronis. Penyakit ini dapat menyebabkan sesak napas berkepanjangan dan mengurangi kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.

Besarnya dampak dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lamanya paparan, kondisi kesehatan, dan faktor risiko lainnya. Karena itu, mengurangi paparan secara konsisten menjadi bagian penting dari upaya melindungi kesehatan masyarakat.

Mengapa polusi udara masih sulit dikendalikan? Polusi udara berasal dari banyak sumber yang saling berkaitan. Di perkotaan, lalu lintas dan kegiatan industri dapat menghasilkan partikel serta gas pencemar, sedangkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil menyumbang emisi dalam skala besar.

Di wilayah yang mengalami musim kering, kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara hingga melintasi batas administratif dan negara. Sementara itu, rumah tangga yang masih mengandalkan bahan bakar padat untuk memasak menghadapi risiko pencemaran udara dalam ruangan.

Pengendalian polusi karena itu tidak cukup hanya dengan mengimbau masyarakat memakai masker. Pengurangan emisi di sumbernya, peralihan ke energi lebih bersih, penguatan transportasi umum, serta akses terhadap teknologi memasak yang lebih aman merupakan langkah penting untuk menekan paparan dalam jangka panjang.

Di tengah kualitas udara yang tidak selalu baik, masyarakat dapat mengambil langkah untuk mengurangi risiko paparan. Upaya individu memang tidak dapat menggantikan kebijakan pengendalian emisi, tetapi dapat membantu melindungi kesehatan sehari-hari.

Saat berada di luar ruangan, masyarakat dapat memeriksa indeks kualitas udara atau AQI sebelum beraktivitas. Jika polusi tinggi, kurangi olahraga berat di luar ruangan dan pertimbangkan transportasi umum atau pilihan perjalanan yang lebih rendah emisi.

Apabila harus berada di luar ketika konsentrasi partikel meningkat, masker respirator seperti KN95 atau FFP2 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker tersebut tidak melindungi secara menyeluruh dari semua jenis gas pencemar.

Di dalam rumah, penggunaan alat pembersih udara dengan filter HEPA dapat membantu menyaring partikel halus. Pintu dan jendela sebaiknya disesuaikan dengan kondisi udara luar: tutup ketika udara luar tercemar berat, lalu lakukan ventilasi ketika kualitas udara di luar membaik.

Hindari merokok di dalam ruangan, membakar sampah, atau menggunakan sumber pembakaran yang menghasilkan asap tanpa ventilasi memadai. Jika memungkinkan, gunakan teknologi memasak yang lebih bersih dan pastikan sistem ventilasi berfungsi dengan baik.

Di tempat kerja, pengurangan perjalanan kendaraan pribadi, berbagi kendaraan, serta penerapan kerja jarak jauh jika sesuai dapat membantu menekan emisi transportasi. Perusahaan juga dapat memperbaiki sistem ventilasi dan penyaringan udara di dalam gedung.

Hampir 7 juta kematian dini yang dikaitkan dengan polusi udara setiap tahun menjadi pengingat bahwa pencemaran atmosfer merupakan persoalan kesehatan global, bukan sekadar masalah lingkungan. (*)

Sumber: IQAir

KEYWORD :

Polusi Udara Kabut Aap Asia Tenggara




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :