Ilustrasi kesepian (foto: Google)
Jakarta, Jurnas.com - Kesepian dan keterasingan sosial dikaitkan dengan lebih sedikit tahun hidup tanpa penyakit serius, bahkan pada orang yang menjalani kebiasaan hidup sehat. Temuan ini berasal dari analisis terhadap hampir 277.500 orang di Inggris yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan paling kuat terlihat pada kesehatan mental, terutama depresi dan kecemasan. Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian tidak berarti seseorang yang kesepian pasti kehilangan sejumlah tahun hidup sehat tertentu.
Studi ini merupakan analisis observasional sehingga menunjukkan pola keterkaitan, bukan membuktikan bahwa kesepian atau keterasingan sosial secara langsung menyebabkan penyakit muncul lebih cepat.
Peneliti membedakan antara kesepian dan isolasi sosial. Kesepian berkaitan dengan bagaimana seseorang merasakan hubungan sosialnya, sedangkan isolasi sosial mengacu pada kondisi yang lebih konkret, seperti minimnya kontak dengan orang lain.
Seseorang dapat mengenal banyak orang tetapi tetap merasa tidak memiliki hubungan dekat. Sebaliknya, seseorang yang sering menghabiskan waktu sendirian belum tentu merasa kesepian.
"Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa isolasi sosial dan kesepian dapat memberikan dampak signifikan terhadap harapan hidup bebas penyakit," kata Profesor Lu Qi dari Celia Scott Weatherhead School of Public and Tropical Medicine, Tulane University.
"Ini mencakup penyakit fisik maupun mental," ujarnya.
Tim peneliti menggunakan data kesehatan 277.489 peserta UK Biobank. Pada awal penelitian, seluruh peserta tidak memiliki tujuh kondisi yang menjadi fokus analisis, yakni diabetes tipe 2, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru-paru jangka panjang, demensia atau Parkinson, kanker, depresi, serta kecemasan.
Kesepian diukur menggunakan dua pertanyaan. Peserta dimasukkan ke dalam kelompok kesepian jika mereka sering merasa kesepian dan mengatakan bahwa mereka kurang dari sekali dalam sebulan dapat mencurahkan isi hati kepada seseorang yang dekat dengan mereka.
Sementara itu, isolasi sosial dinilai berdasarkan tiga kondisi, yakni tinggal sendirian, bertemu teman atau keluarga kurang dari sekali dalam sebulan, serta mengikuti kegiatan sosial kurang dari sekali dalam sepekan.
Seseorang dikategorikan mengalami isolasi sosial apabila setidaknya dua dari kondisi tersebut terpenuhi.
Dengan metode tersebut, penelitian tidak sekadar membandingkan orang yang sesekali merasa kesepian dengan mereka yang tidak merasakannya.
Dengan usia 50 tahun sebagai titik awal, peneliti memperkirakan berapa lama seseorang dapat hidup tanpa tujuh penyakit yang dianalisis.
Pada perempuan yang mengalami kesepian sekaligus isolasi sosial, perkiraan waktu hidup tanpa depresi atau kecemasan 3,7 tahun lebih pendek dibandingkan perempuan yang tidak mengalami keduanya. Pada laki-laki, selisih tersebut mencapai 5,8 tahun.
Kesepian tanpa isolasi sosial dikaitkan dengan 3,9 tahun lebih sedikit bebas dari depresi atau kecemasan pada perempuan dan 2,9 tahun pada laki-laki. Sementara isolasi sosial tanpa kesepian dikaitkan dengan selisih 2,0 tahun pada perempuan dan 3,0 tahun pada laki-laki.
"Temuan ini tidak mengejutkan bagi saya," kata Qi.
"Penelitian sebelumnya menemukan bahwa isolasi sosial dan kesepian berkaitan dengan kematian, terutama kematian dini, dan penelitian ini memberikan bukti tambahan."
Pola serupa juga terlihat ketika peneliti hanya menganalisis lima kelompok penyakit fisik, meski perbedaannya lebih kecil.
Perempuan yang mengalami kesepian dan isolasi sosial secara bersamaan diperkirakan memiliki 2,4 tahun lebih sedikit tanpa lima kelompok penyakit fisik tersebut. Pada laki-laki, selisihnya sekitar 1,7 tahun.
Ketika seluruh tujuh kondisi fisik dan mental digabungkan, perbedaannya sekitar 3,0 tahun pada perempuan dan 2,2 tahun pada laki-laki.
Angka tersebut merupakan pola yang ditemukan pada kelompok besar peserta dan bukan perkiraan pasti mengenai berapa tahun hidup sehat yang akan hilang pada seseorang.
Peneliti juga menganalisis sejumlah kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan, termasuk merokok, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, dan tidur.
Secara umum, orang dengan kebiasaan hidup yang lebih sehat memiliki lebih banyak tahun bebas penyakit.
Namun, hubungan antara gaya hidup sehat dan kesepian menunjukkan pola yang berbeda. Pada perempuan, selisih terkait isolasi sosial semakin kecil seiring membaiknya kebiasaan hidup. Selisihnya mencapai 2,2 tahun pada kelompok dengan gaya hidup paling tidak sehat dan turun menjadi 0,6 tahun pada kelompok dengan gaya hidup paling sehat.
Selisih 0,6 tahun tersebut tidak signifikan secara statistik.
Sementara itu, pada kesepian, kebiasaan hidup yang lebih sehat tidak secara konsisten memperkecil kesenjangan terkait kesepian, meskipun tetap berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan.
Peneliti juga menemukan sejumlah perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan menunjukkan kesenjangan kesehatan mental yang lebih besar pada kesepian saja, sedangkan laki-laki menunjukkan kesenjangan yang lebih besar pada isolasi sosial saja.
Menurut Qi, perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan cara dukungan emosional dan tingkat kontak sosial memengaruhi laki-laki dan perempuan.
Namun, penelitian tersebut tidak menguji penyebab perbedaan itu. Karena itu, penjelasan tersebut masih berupa kemungkinan dan belum dapat dianggap sebagai kesimpulan yang terbukti.
Ada sejumlah keterbatasan penting dalam penelitian ini. Kesepian dan isolasi sosial hanya diukur satu kali pada awal penelitian, padahal hubungan pertemanan, kondisi keluarga, dan situasi tempat tinggal seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Pertanyaan yang digunakan juga relatif singkat sehingga belum dapat menggambarkan seluruh aspek kehidupan sosial peserta. Sebagian informasi mengenai gaya hidup berasal dari laporan peserta sendiri.
Selain itu, jumlah tahun hidup bebas penyakit dihitung melalui estimasi matematis, bukan dengan mengikuti setiap peserta sepanjang sisa hidup mereka.
Yang paling penting, penelitian ini bersifat observasional. Artinya, penelitian dapat menunjukkan bahwa kesepian, isolasi sosial, dan kondisi kesehatan muncul bersamaan dalam pola tertentu, tetapi tidak dapat membuktikan bahwa kesepian atau isolasi sosial secara langsung menyebabkan penyakit muncul lebih awal.
Temuan penelitian ini tidak berarti menghabiskan waktu sendirian secara otomatis buruk bagi kesehatan atau memiliki banyak hubungan sosial pasti membuat seseorang lebih sehat.
Yang terlihat dari penelitian adalah bahwa kesepian dan isolasi sosial merupakan dua pengalaman berbeda, dan keduanya dikaitkan dengan jumlah tahun hidup bebas penyakit.
Kebiasaan sehat tetap berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik, terutama pada orang yang mengalami isolasi sosial. Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu menghapus kesenjangan yang berkaitan dengan perasaan kesepian.
Hasil tersebut menempatkan hubungan sosial sebagai salah satu aspek yang patut diperhatikan dalam pembahasan mengenai kesehatan, berdampingan dengan tidur, aktivitas fisik, pola makan, dan kebiasaan sehari-hari lainnya.
Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme di balik hubungan tersebut. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bahaya Kesepian Keterasingan Sosial Kesehatan Jangka Panjang


























