Ilustrasi - Hari Syukur Sedunia setiap 21 September (Foto: Freepik)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 21 September, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Syukur Sedunia (World Gratitude Day).
Peringatan ini menjadi ruang jeda bagi publik global untuk merenungkan hal-hal positif dalam kehidupan serta mengekspresikan rasa terima kasih kepada sesama.
Sejarah peringatan ini berawal dari sebuah gagasan yang dicetuskan pada tahun 1965 dalam acara makan malam Thanksgiving di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hawaii.
Acara tersebut diinisiasi oleh Sri Chinmoy, seorang pemikir dan pemimpin spiritual, yang mengusulkan agar ada satu hari khusus yang didedikasikan secara global untuk merayakan rasa syukur.
Gagasan ini mendapat sambutan hangat dari para peserta yang hadir, termasuk delegasi dari berbagai negara anggota PBB.
Sejak pertemuan tersebut, para peserta berkomitmen untuk membawa tradisi memperingati Hari Syukur ke negara masing-masing setiap tanggal 21 September.
Seiring berjalannya waktu, gerakan sosial ini meluas ke berbagai belahan dunia dan dirayakan secara independen oleh masyarakat global tanpa memandang latar belakang budaya atau agama.
Tujuan utama dari Hari Syukur Sedunia adalah mendorong individu untuk membiasakan sikap apresiatif, baik melalui ucapan terima kasih sederhana, menuliskan catatan apresiasi, maupun melakukan aksi kebaikan kepada orang lain.
Dari sudut pandang psikologi dan kesehatan mental, mempraktikkan rasa syukur secara rutin terbukti dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan kesejahteraan emosional, serta mempererat hubungan antarmanusia di tengah dinamika kehidupan modern.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hari Syukur Sedunia 21 September Peringatan Internasional Bulan September




















