Banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China, sejumlah bangunan terkubur lumpur (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Bencana banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal-China kembali menunjukkan skala kehancurannya. Sembilan hari setelah bencana terjadi, jumlah korban meninggal di kedua negara telah mencapai 1.325 orang, sementara 5.584 orang masih dinyatakan hilang.
Data resmi terbaru menunjukkan Nepal mencatat 1.294 korban meninggal dunia dan 5.053 orang masih hilang. Dari jumlah warga yang belum ditemukan di Nepal, 583 orang merupakan warga negara asing.
Di sisi China, otoritas melaporkan sedikitnya 31 orang meninggal dunia dan 531 orang masih hilang di wilayah Xizang Autonomous Region, yang juga dikenal sebagai Tibet.
Jika digabungkan, jumlah korban meninggal di kedua sisi perbatasan mencapai 1.325 orang. Sementara itu, 5.584 orang masih dalam pencarian, termasuk 844 warga negara asing.
Di tengah pencarian ribuan orang, tim penyelamat Nepal sebelumnya berhasil menemukan dua orang dalam keadaan hidup di proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A.
Keduanya ditemukan setelah tim penyelamat mendengar suara dari dalam terowongan. Penemuan tersebut menjadi salah satu titik terang dalam operasi penyelamatan yang berlangsung setelah banjir bandang menghantam kawasan perbatasan.
Sedikitnya enam proyek pembangkit listrik tenaga air di sisi Nepal terdampak banjir. Pencarian juga masih dilakukan terhadap sekitar 900 personel yang ditempatkan di berbagai fasilitas tersebut.
Namun, operasi pencarian berlangsung di tengah ancaman bencana susulan. Otoritas penanggulangan bencana Nepal memperingatkan bahwa Sungai Chaulani saat ini terblokir sekitar separuh bagian.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memburuk apabila longsor kembali terjadi. Otoritas memperingatkan bahwa material longsor yang terus bergerak berpotensi menutup sungai sepenuhnya.
Kantor Administrasi Distrik Darchula pun meminta warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, wilayah rendah di sekitar aliran sungai, serta kawasan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa bahaya belum sepenuhnya berakhir meskipun bencana utama telah berlalu sembilan hari.
Bencana dahsyat ini bermula pada 26 Agustus, ketika sebuah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, mengalami keretakan pada ketinggian sekitar 5.200 meter.
Keretakan tersebut memicu longsoran es dan batu yang kemudian berkembang menjadi aliran material besar. Aliran debris itu menyapu lembah-lembah di sepanjang kawasan perbatasan Nepal-China.
Di Nepal, banjir dan longsor menghantam distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan Kavre, serta kawasan Lembah Kathmandu. Di wilayah China, bencana juga menimbun Gyirong border crossing di Xizang.
Sembilan hari setelah bencana, ribuan orang masih belum ditemukan. Jumlah korban yang tinggi dan luasnya wilayah terdampak membuat operasi pencarian terus berlanjut di kedua negara.
Penemuan dua korban hidup di terowongan Trishuli 3A menunjukkan masih adanya peluang penyelamatan. Namun, ancaman longsor dan kondisi sungai yang belum stabil membuat tim di lapangan harus menghadapi risiko tambahan dalam mencari korban yang masih hilang.
Dengan 5.584 orang masih dalam pencarian, operasi penyelamatan di kawasan perbatasan Nepal-China masih jauh dari selesai. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Banjir Bandang Perbatasan Nepal-China Korban Banjir
























