Sebuah kapal tanker minyak berlayar melalui Selat Hormuz pada 17 April 2026, sesaat sebelum Iran mengumumkan bahwa selat tersebut akan ditutup kembali (Foto: Mohammed Aty/Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Kurang dari 20 kapal pengangkut komoditas tercatat melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, demikian ditunjukkan data pelayaran terbaru pada Senin (24/8).
Kondisi tersebut dipicu oleh aksi blokade maritim yang dilancarkan Iran dan Amerika Serikat yang terus membatasi secara ketat lalu lintas di jalur terusan vital bagi pengiriman energi dunia tersebut.
Data awal dari penyedia pemantau kapal Kpler per pukul 02.28 GMT menunjukkan hanya empat kapal yang menyeberangi selat pada Minggu, setelah sebelumnya mencatat 13 kapal pada Sabtu. Angka tersebut berpotensi berubah lantaran beberapa kapal sengaja mematikan alat pelacak (transponder) saat melintas.
Angka akhir pekan tersebut berbanding terbalik dengan data Jumat yang mencatatkan 16 pelintasan, di mana dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (Very Large Crude Carriers/VLCC) dalam kondisi kosong memasuki kawasan Teluk dengan perangkat pemantau dimatikan ,masing-masing menuju Irak dan Bahrain.
Sementara itu, satu kapal VLCC yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah asal Uni Emirat Arab dilaporkan berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Kamis.
Data Kpler turut mencatat sebanyak delapan kapal pengangkut gas berukuran sangat besar (Very Large Gas Carriers) melintasi selat selama tiga hari terakhir, di mana enam di antaranya masuk dalam keadaan kosong sementara Sisanya mengangkut gas minyak cair (LPG) yang dimuat dari Iran untuk keluar dari Teluk.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) dalam laporan resminya menyatakan bahwa volume lalu lintas secara keseluruhan tetap tertekan pada pekan hingga 21 Agustus, lantaran banyak kapal membatalkan rencana pelintasan atau mengalihkan rute melalui sisi utara selat pasca-maraknya insiden serangan.
Sebanyak 89 kapal tercatat keluar dari selat sementara 103 kapal masuk selama periode tujuh hari tersebut, berdasarkan data Sistem Identifikasi Otomatis (Automatic Identification System/AIS).
"Volume lalu lintas tetap berada jauh di bawah level normal, di mana pergerakan kapal yang terdeteksi AIS berada sekitar 90 persen di bawah garis dasar sebelum konflik dan terus menurun sejak puncaknya pada 24 hingga 26 Juni," tambah laporan UKMTO.
UKMTO menyebutkan bahwa pergerakan kapal tanker mendominasi lalu lintas selat dengan porsi mencapai 45 persen dari total pergerakan. Dari jumlah tersebut, 56 persen merupakan tanker pengangkut minyak mentah, produk olahan minyak, atau bahan kimia, sedangkan kapal pengangkut LPG menyumbang 24 persen sisanya.
Sejak 6 Juli, UKMTO telah mencatat 23 insiden serangan proyektil yang mengakibatkan kerusakan pada anjungan, ruang mesin, serta struktur fisik kapal di Selat Hormuz dan sekitarnya.
Adapun di jalur terpisah, sebanyak 24 kapal komoditas berlayar melintasi Selat Bab al-Mandab pada Minggu, turun dari angka 32 kapal pada Sabtu usai sempat naik dari 22 kapal pada Jumat.
Dua kapal VLCC dilaporkan memasuki Laut Merah pada Sabtu, di mana satu kapal mengangkut minyak mentah Basrah asal Irak sementara satu kapal lainnya berlayar dalam kondisi kosong.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Selat Hormuz Kapal Tanker Konflik Timur Tengah Iran AS
























