Minggu, 26/07/2026 00:33 WIB

Mengapa Hari Mangrove Sedunia Diperingati Setiap 26 Juli?





Setiap tanggal 26 Juli, masyarakat dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem).

Ilustrasi - Hari Mangrove Sedunia setiap 26 Juli, ini sejarahnya (Foto: AFP/Johan Ordonez)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 26 Juli, masyarakat dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem).

Peringatan tahunan ini tidak hanya menjadi agenda pengingat akan pentingnya ekosistem pesisir, tetapi juga menyimpan latar belakang sejarah serta bentuk penghormatan mendalam atas aksi dedikasi terhadap lingkungan.

Dihimpun dari berbagai sumber, sejarah pemilihan tanggal 26 Juli berakar dari peristiwa penting yang terjadi pada tahun 1998 di Ecuador.

Saat itu, seorang aktivis lingkungan asal Greenpeace bernama Hayhow Daniel Nanoto meninggal dunia akibat serangan jantung saat berpartisipasi dalam aksi protes besar-besaran untuk menyelamatkan hutan mangrove di Muisne, Ecuador.

Aksi tersebut digalang untuk menolak ekspansi tambak udang skala industri yang merusak kawasan pesisir setempat. Peristiwa gugurnya sang aktivis kemudian memicu gerakan aktivisme pesisir di berbagai negara.

Untuk mengenang pengorbanan tersebut serta menyuarakan darurat penyelamatan kawasan pesisir, jaringan organisasi non-pemerintah global yang tergabung dalam Red Manglar International mulai mengompanyekan tanggal 26 Juli sebagai hari aksi perlindungan mangrove.

Secara formal, momentum ini mendapat pengakuan internasional pada Sidang Umum Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2015.

Melalui adopsi resolusi resmi, UNESCO secara sah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove.

Penetapan ini didasari oleh realitas bahwa ekosistem mangrove merupakan salah satu lingkungan paling produktif sekaligus paling terancam di bumi.

Hutan mangrove memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon (karbon biru) hingga empat kali lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis daratan, menjadikannya benteng krusial dalam menghadapi perubahan iklim global.

Selain itu, ekosistem ini berperan vital sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari abrasi, badai, hingga ancaman tsunami.

Bagi Indonesia, sebagai pemilik sekitar 20 hingga 25 persen dari total luas hutan mangrove dunia peringatan setiap 26 Juli memiliki arti strategis.

Momen ini rutin dimanfaatkan oleh pemerintah, akademisi, dan komunitas pencinta lingkungan untuk mempercepat rehabilitasi lahan pesisir yang rusak, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian benteng hijau pantai demi keberlanjutan generasi mendatang.

KEYWORD :

Hari Mangrove Sedunia 26 Juli Peringatan Dunia Bulan Juli




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :